Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Kementerian Perdagangan (Kemendag) optimistis sektor fast-moving consumer goods (FMCG) akan mengalami kebangkitan pada 2026 dan menjadi penopang baru ekspor nonmigas Indonesia. Optimisme tersebut seiring meningkatnya minat pasar Jepang terhadap produk konsumer bernilai tambah dari Indonesia.
Optimisme itu tercermin dari penjajakan bisnis yang digelar Kemendag bersama Japan External Trade Organization (JETRO), yang mempertemukan pelaku FMCG Indonesia dengan peritel Jepang. Agenda tersebut bertujuan membuka akses pasar dan memperluas peluang ekspor produk FMCG ke Jepang.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menyatakan sektor FMCG dan produk kreatif memiliki potensi besar untuk memperkuat struktur ekspor nasional di luar sektor tradisional.
Baca Juga: RI Perluas Ekspor Produk FMCG ke Pasar Jepang
“Selain sektor otomotif, kami melihat masih banyak potensi di sektor seperti furnitur, home living, wellness, perawatan tubuh, dan kecantikan yang bisa kita kembangkan. Kami optimistis sektor FMCG dan produk kreatif Indonesia dapat menjadi katalis untuk rebound di 2026,” tutur Fajarini dalam keterangannya, Kamis (22/1/2026).
Penjajakan bisnis ini digelar di tengah kinerja ekspor nonmigas Indonesia ke Jepang yang masih tertekan. Pada periode Januari–November 2025, ekspor nonmigas ke Jepang tercatat sebesar USD 14,08 miliar atau setara Rp237,98 triliun dengan kurs Rp16.902. Nilai tersebut turun 17,91% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dipengaruhi dinamika ekonomi global.
Meski demikian, Kemendag menilai sektor FMCG memiliki ruang tumbuh sebagai sumber pertumbuhan baru ekspor. Produk konsumer dinilai lebih adaptif terhadap perubahan tren dan memiliki peluang besar menembus pasar ritel Jepang yang menuntut kualitas dan nilai tambah.
Presiden Direktur JETRO Jakarta Shinji Hirai mengatakan peritel dan perusahaan perdagangan Jepang membutuhkan produk dengan standar tinggi yang sejalan dengan tren konsumsi.
Baca Juga: OPMS Tambah 16 Lini Usaha, Masuk Bisnis FMCG
“Kegiatan ini dapat menjadi referensi bagi pemasok Indonesia dalam mengembangkan produk dan memahami kebutuhan pasar Jepang. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat membantu perusahaan-perusahaan Jepang dalam menemukan pemasok baru dari Indonesia,” kata Hirai.
Dari sisi pelaku usaha, sektor FMCG juga dipandang sebagai pintu masuk ekspor yang lebih luas, khususnya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perwakilan Sagara Group, Ferdi, menyambut positif fasilitasi yang diberikan pemerintah dan JETRO dalam mempertemukan UMKM dengan calon pembeli dari Jepang.
“Kami berharap, fasilitasi ini dapat membantu mengangkat produk UMKM khas lokal agar mampu menembus pasar global,” ujarnya.
Sebagai informasi, dalam agenda penjajakan bisnis tersebut, sebanyak 30 UMKM turut ambil bagian. Para peserta berasal dari berbagai subsektor FMCG, mulai dari makanan dan minuman, kosmetik dan perawatan kulit, kebutuhan hewan peliharaan, hingga peralatan rumah tangga. Produk-produk tersebut dinilai memiliki peluang untuk masuk ke dalam rantai pasok ritel Jepang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: