- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Perkuat Konektivitas Digital, KETR dan MORA Gelar Kabel Laut Jakarta–Batam–Singapura
Kredit Foto: Triasmitra
PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) melalui anak usahanya, PT Jejaring Mitra Persada (JMP), resmi memulai penggelaran sistem kabel laut SKKL Rising 8 yang menghubungkan Jakarta, Batam, hingga Singapura.
Proyek strategis ini digarap bersama PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) dengan total panjang kabel mencapai 1.128,5 kilometer.
Penggelaran kabel dilakukan menggunakan kapal berbendera Indonesia, Cable Laying Vessel (CLV) Bentang Bahari. Pada tahap awal, pekerjaan difokuskan pada segmen Jakarta–Batam sepanjang 1.053,5 kilometer.
CLV Bentang Bahari telah mengantongi sertifikasi lengkap dari Det Norske Veritas (DNV), lembaga klasifikasi maritim internasional.
Baca Juga: Satu Dekade Upaya Pemerintah Bangun Internet Sehat dan Ruang Digital Ramah Anak di Indonesia
CLV Bentang Bahari juga memiliki notasi kelas DNV, antara lain E0 Notation untuk sistem propulsi dan kontrol otomatis, DP Notation (Dynamic Positioning System), serta Cable Ship Notation sebagai kapal khusus penggelaran kabel laut.
Sertifikasi dan notasi ini memastikan Bentang Bahari memenuhi standar keselamatan maritim internasional tertinggi dan layak beroperasi untuk mendukung proyek kabel laut berskala besar.
“Penggelaran SKKL Rising 8 dengan CLV Bentang Bahari menandai era baru kemandirian Indonesia di sektor infrastruktur kabel laut. Dengan kapasitas 25 Tbps per fiber pair serta kendali penuh atas operasional, kami optimistis proyek ini tidak hanya meningkatkan konektivitas digital Indonesia–Singapura, tetapi juga memposisikan Triasmitra sebagai pemain regional yang kompetitif dengan standar operasional kelas dunia,” kata Direktur Utama KETR, Titus Dondi.
Baca Juga: Surge (WIFI) Gaet FiberHome Hadirkan Jaringan 5G FWA Spektrum 1,4 GHz
Dari sisi teknologi, SKKL Rising 8 mengadopsi repeatered submarine cable system berkapasitas tinggi dengan total kapasitas mencapai 400 Terabit per second (Tbps), menjadikannya salah satu sistem kabel laut berkapasitas besar di kawasan regional.
Kabel bawah laut yang digunakan merupakan produksi Norddeutsche Seekabelwerke GmbH (NSW), Jerman, pabrik milik Prysmian Group yang telah berpengalaman lebih dari 125 tahun dalam manufaktur kabel bawah laut.
Sistem ini juga terintegrasi dengan 11 unit repeater berteknologi tinggi dari Alcatel Submarine Networks (ASN), Prancis, yang dirancang untuk mendukung 16 fiber pairs dengan kapasitas total minimum 400 Tbps.
Proyek SKKL Rising 8 telah memperoleh seluruh perizinan yang dipersyaratkan dari instansi pemerintah terkait, khususnya Izin Lingkungan (AMDAL).
Proyek ini juga didukung oleh tenaga-tenaga ahli berpengalaman yang dikembangkan secara berkelanjutan oleh perusahaan dan diawasi oleh berbagai instansi pemerintah berwenang, melalui penugasan pengawas resmi yang turut berada di atas kapal penggelaran.
Baca Juga: Internet Disebut Jadi Infrastruktur Ekonomi Vital Saat Bencana
Kehadiran SKKL Rising 8 diharapkan mampu menjawab lonjakan kebutuhan bandwidth dan meningkatkan keandalan konektivitas antara Indonesia dan Singapura.
Selain itu, sistem ini juga berfungsi sebagai jalur alternatif, baik untuk konektivitas domestik maupun internasional bagi penyelenggara Layanan Gerbang Akses Internet (NAP) eksisting, sehingga memberikan redundansi yang krusial dalam menjaga stabilitas infrastruktur digital nasional.
Penggelaran segmen pertama Jakarta–Batam ditargetkan rampung pada akhir kuartal pertama 2026. Ke depan, setelah proyek SKKL Rising 8 selesai, Triasmitra akan melanjutkan pengembangan SKKL Indonesia Tengah sepanjang 8.732 kilometer dengan target komersialisasi pada 2027.
Proyek lanjutan ini akan menghubungkan berbagai wilayah strategis di Indonesia Tengah dan semakin memperkokoh backbone telekomunikasi nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri