Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Surat dari Noel Ebenezer: Ada Kalanya Seseorang Memilih Jalan yang Tidak Aman

        Surat dari Noel Ebenezer: Ada Kalanya Seseorang Memilih Jalan yang Tidak Aman Kredit Foto: Instagram/Immanuel Ebenezer
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sikap tak biasa Eks Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer atau Noel Ebenezer dalam menjalani agenda dakwaan kasus dugaan pemerasan pengurusan K3 terus menjadi sorotan publik. 

        Dalam berbagai kesempatan, Noel “mengoceh” dan menjanjikan akan mengungkap berbagai fakta. "Saya tidak mau menyanggah apa yang mau disampaikan. 32 mobil dengan rumah yang tipe 36 dengan tanah 83 meter, kalau markir gimana 32 mobil? Keren kan?" ucap Noel satir, di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).

        "Kita lihat orkestrasi yang dinarasikan KPK sebagai gembong. Nah, sekarang saya bilang, iya saya gembong. Saya memerintahkan seluruh kementerian untuk melakukan korupsi massal," kata Noel.

        Tak hanya di depan awak media secara langsung, Noel pun juga menyampaikan “surat” lewat media sosialnya. Dalam unggahan terbaru Instagramnya, Noel menulis ungkapan:

        Ia berdiri di ruang sidang bukan sebagai orang suci,

        tetapi sebagai manusia

        dengan luka, keyakinan, dan keberanian yang pernah ia pakai

        untuk membela mereka yang tak bersuara.

        Ada orang-orang yang memilih diam agar selamat.

        Ada pula yang memilih bersuara meski tahu risikonya.

        Noel memilih yang kedua,

        jalan sunyi yang jarang dihargai pada masanya,

        tetapi sering dipahami terlambat oleh sejarah

        Hari ini, Noel tidak meminta dibebaskan oleh sorak-sorai,

        ia hanya meminta dipahami oleh nurani.

        Bahwa ada kalanya seseorang memilih jalan yang tidak aman

        demi membela yang lebih lemah dari dirinya sendiri.

        Di balik palu hakim dan pasal-pasal yang dibacakan,

        ada satu hal yang sering luput:

        niat baik yang lahir bukan dari ambisi,

        melainkan dari rasa tanggung jawab pada sesama manusia.

        Ia tidak lari dari persidangan.

        Ia hadir.

        Menghadap hukum dengan kepala tegak,

        menyerahkan nasibnya pada keadilan

        bukan pada dendam, bukan pada kebencian.

        Jika hari ini ia diuji,

        semoga yang diuji bukan hanya dirinya,

        tetapi juga kepekaan kita sebagai bangsa:

        apakah kita masih mampu membedakan

        antara kesalahan dan pengorbanan,

        antara pelanggaran dan keberpihakan.

        Karena sejarah selalu mencatat satu hal dengan jujur:

        mereka yang berdiri paling depan membela rakyat

        sering kali adalah yang pertama merasakan dinginnya ruang sidang.

        Dan di sanalah kita diuji

        apakah hukum tetap manusiawi,

        atau manusia harus dikorbankan

        demi hukum pada tujuan awalnya: Keadilan.

        Dalam sidang sebelumnya, Noel berjanji akan mengungkap keterlibatan dua pihak besar pada kasus korupsi yang didakwakan kepadanya. Noel akan mengungkap partai politik dan ormas yang terlibat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: