Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Jeblok Nyaris 8 Persen, Trading Halt Mengintai!

        IHSG Jeblok Nyaris 8 Persen, Trading Halt Mengintai! Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pasar saham Indonesia terpantau loyo pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka ambles 6,8% ke level 8.393,51. Bahkan pada perdagangan intraday jelang penutupan sesi I, pelemahan sempat melebar hingga lebih dari 7% ke posisi 8.269,14, atau mendekati ambang batas trading halt sebesar 8%.

        Kondisi pasar tercermin dari mayoritas saham yang bergerak di zona merah. Tercatat sebanyak 760 saham melemah, hanya 28 saham yang menguat, sementara 16 saham stagnan. Aktivitas transaksi sangat padat dengan volume mencapai 41,54 lembar saham dan frekuensi perdagangan 2.661.307 kali. Adapun nilai transaksi yang tercatat menembus Rp29,08 triliun.

        Berdasarkan aturan baru pembekuan perdagangan sementara yang berlaku di Bursa Efek Indonesia, trading halt diberlakukan saat terjadi kondisi darurat, termasuk penurunan tajam IHSG. Jika indeks terkoreksi lebih dari 8%, perdagangan akan dihentikan sementara selama 30 menit, naik dibandingkan aturan lama yang menetapkan ambang 5%.

        Apabila tekanan berlanjut dan IHSG turun lebih dari 15%, trading halt kembali diberlakukan selama 30 menit. Sementara itu, jika penurunan menembus lebih dari 20%, Bursa dapat menerapkan trading suspend hingga akhir sesi perdagangan atau lebih dari satu sesi, dengan persetujuan atau perintah dari Otoritas Jasa Keuangan.

        Baca Juga: Pasar Saham RI Terguncang Keputusan Baru MSCI, Picu IHSG Terperosok 6,8%

        Adapun pemicu utama tekanan pasar kali ini berasal dari keputusan pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang resmi mengumumkan pembekuan sementara terhadap sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia.

        Kebijakan ini diambil di tengah meningkatnya perhatian investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham serta aspek investabilitas pasar domestik.

        Sebelumnya, MSCI menyampaikan telah merampungkan konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia. Meski Bursa Efek Indonesia telah melakukan sejumlah perbaikan minor, MSCI menilai upaya tersebut belum cukup untuk meredam kekhawatiran investor global.

        Sebagai langkah mitigasi risiko, MSCI langsung menerapkan interim freeze. Kebijakan ini mencakup pembekuan seluruh kenaikan bobot saham Indonesia, penghentian penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI, serta tidak adanya kenaikan kelas saham Indonesia di seluruh segmen indeks. Tujuannya untuk membatasi risiko turnover indeks sekaligus menjaga aspek investability.

        Ke depan, MSCI juga membuka peluang pengetatan lanjutan apabila tidak terjadi perbaikan signifikan. Opsi yang dipertimbangkan mencakup pengurangan bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets hingga potensi reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: