Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Butuh Jalur Rusia ke Teheran, Putin Datang dengan Proposal Damai Iran di Tangan

Trump Butuh Jalur Rusia ke Teheran, Putin Datang dengan Proposal Damai Iran di Tangan Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Donald Trump menelepon Vladimir Putin pada Senin untuk membahas tiga krisis sekaligus: perang Iran, perundingan Ukraina, dan situasi Venezuela.

Melansir Meduza, itu adalah panggilan pertama keduanya sejak Desember 2025, dan Asisten Kremlin Yuri Ushakov mengonfirmasi percakapan berlangsung sekitar satu jam.

Fakta bahwa Washington yang menginisiasi panggilan ini bukan detail kecil. Harga minyak sudah di 118 dollar per barel, enam tentara AS tewas di Kuwait, Selat Hormuz nyaris lumpuh, dan Trump butuh berbicara dengan satu-satunya pemimpin besar yang punya jalur komunikasi langsung ke Teheran.

Seberapa pun Washington ingin tampil digdaya, telepon itu sudah menjawab pertanyaan tentang siapa yang lebih membutuhkan siapa.

Soal Iran, dikutip dari Al-Monitor, Putin menanggapi telepon itu dengan membawa sejumlah proposal untuk mengakhiri perang.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi pada saat yang hampir bersamaan menyatakan di TV nasional bahwa Prancis, China, dan Rusia sudah menghubungi Teheran untuk mendiskusikan syarat-syarat gencatan senjata, sebuah perkembangan yang menempatkan Moskow sebagai pusat gravitasi diplomatik dalam konflik ini.

Yang mempertebal ironi dari panggilan itu adalah konteksnya, ini adalah telepon pertama Trump-Putin sejak laporan intelijen AS mengungkap Moskow diduga aktif membocorkan posisi kapal perang dan pesawat tempur Amerika kepada Iran.

Washington tetap menginisiasi panggilan meski tuduhan itu masih menggantung tanpa bantahan resmi dari Kremlin, dan banyak soal seberapa besar kebutuhan AS akan peran Rusia untuk membuka pintu Teheran.

Soal Ukraina, Ushakov tidak datang dengan nada yang merendah. Ia menyampaikan bahwa perkembangan di medan perang ditandai oleh pasukan Rusia yang maju dengan cukup sukses, dan framing itu bukan kebetulan, karena Moskow sedang menekan Kiev agar menempuh jalur negosiasi dari posisi yang lemah.

Trump menegaskan minatnya pada gencatan senjata yang cepat dan resolusi jangka panjang, tapi dengan Rusia yang mengklaim unggul di lapangan, Putin tidak punya alasan untuk bergegas ke meja perundingan. Zelensky di saat yang sama menegaskan kesediaan Kiev berunding, sekaligus mengumumkan pertemuan pekan ini ditunda atas usulan pihak Amerika.

Venezuela menjadi bagian paling singkat sekaligus paling misterius dari percakapan itu. Dikutip dari Axios, Ushakov hanya menyebut Venezuela disinggung dalam konteks situasi pasar minyak global saat ini, tanpa satu pun detail yang diungkap ke publik.

Trump sebelumnya sudah menyatakan ingin memanfaatkan cadangan minyak Venezuela untuk menstabilkan harga global yang sedang melonjak, sementara Rosneft milik Rusia adalah salah satu pemain energi terbesar di negara itu. Satu kalimat pendek dalam percakapan satu jam itu kemungkinan menyimpan negosiasi yang jauh lebih besar di balik layar.

Baca Juga: Trump Soal Perang Rusia-Ukraina: Ada Kebencian Besar Antara Putin dan Zelensky

Iran, Ukraina, Venezuela. Ketiganya produsen minyak besar yang sedang dilanda krisis, ketiganya menempatkan Rusia sebagai pemain kunci yang tidak bisa diabaikan Washington, dan ketiganya kini terhubung dalam satu panggilan telepon yang dimulai dari Gedung Putih.

Bahwa Trump-lah yang menelepon duluan adalah kesimpulan yang lebih keras dari pernyataan resmi mana pun yang keluar dari percakapan itu.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat