Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        764 Saham Kebakaran, IHSG Sesi I Ditutup Melemah 7,34% ke Level 8.321

        764 Saham Kebakaran, IHSG Sesi I Ditutup Melemah 7,34% ke Level 8.321 Kredit Foto: Annisa Nurfitri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergerus 659,01 poin atau setara 7,34% ke level 8.321,21 pada penutupan sesi pertama perdagangan Rabu, 28 Januari 2026. Bahkan pada perdagangan intraday jelang penutupan sesi I, pelemahan sempat melebar hingga lebih dari 7% ke posisi 8.269,14.

        Pergerakan saham pada siang hari ini didominasi rapor merah. Sebanyak 764 saham ambruk, 30 saham bergerak naik, dan 10 saham tidak bergerak. 

        Hingga pertengahan hari ini, IHSG sudah membukukan nilai transaksi Rp30,05 triliun. Hal itu diperoleh dari adanya perdagangan 42,81 miliar lembar saham dengan frekuensi 2.767.308 kali. 

        Baca Juga: IHSG Jeblok Nyaris 8 Persen, Trading Halt Mengintai!

        Saham yang banyak diborong investor adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai transaksi Rp4,2 triliun. Disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp1,95 triliun dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp1,67 triliun. 

        PT Artha Mahiya Investama Tbk (AIMS) memimpin posisi top losers dengan penurunan 15% ke Rp595. Diikuti PT Argo Pantes Tbk (ARGO) yang anjlok 15% ke Rp1.105 dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) yang ambruk 15% ke Rp1.445.

        Di posisi top gainers ada PT Buana Artha Anugerah Tbk (STAR) yang melejit 20,8% ke Rp755, PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) yang terbang 20% ke Rp144 dan PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) yang melesat 19,15% ke Rp224. 

        Baca Juga: MSCI Bekukan Penyesuaian Indeks untuk Saham Indonesia, Transparansi Jadi Sorotan!

        Adapun pemicu utama tekanan pasar kali ini berasal dari keputusan pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang resmi melakukan pembekuan sementara terhadap sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia.

        Kebijakan ini diambil di tengah meningkatnya perhatian investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham serta aspek investabilitas pasar domestik.

        Sebelumnya, MSCI menyampaikan telah merampungkan konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia. Meski Bursa Efek Indonesia telah melakukan sejumlah perbaikan minor, MSCI menilai upaya tersebut belum cukup untuk meredam kekhawatiran investor global.

        Sebagai langkah mitigasi risiko, MSCI menerapkan interim freeze. Kebijakan ini mencakup pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham tercatat (Number of Shares/NOS).

        Selain itu, tidak akan ada penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak diimplementasikan kenaikan kelas saham antarsegmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard

        Tujuannya untuk membatasi risiko turnover indeks sekaligus menjaga aspek investability. Ke depan, jika tidak ada kemajuan signifikan, status aksesibilitas pasar Indonesia akan kembali ditinjau.

        Kondisi ini berpotensi berujung pada penurunan bobot saham Indonesia di dalam indeks MSCI Emerging Markets, bahkan membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari pasar berkembang (Emerging Market) menjadi Frontier Market.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: