Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Jatuh Lebih 7%, Peluang Rebound Masih Ada

        IHSG Jatuh Lebih 7%, Peluang Rebound Masih Ada Kredit Foto: Uswah Hasanah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 7 persen pada perdagangan Rabu (28/1/2026), memicu panic selling investor ritel di tengah tekanan pasar global dan domestik. Menanggapi kondisi tersebut, Founder & CEO Astronacci International Prof. Dr. Gema Goeyardi menyampaikan pembaruan kondisi pasar dan proyeksi lanjutan pergerakan IHSG.

        Gema menyatakan, koreksi tajam IHSG telah berada dalam skenario yang sebelumnya ia sampaikan sejak 31 Desember 2025, ketika indeks diproyeksikan berpotensi terkoreksi setelah menyentuh area 9.150, dengan target koreksi awal di kisaran 8.200.

        “Sejak akhir Desember kami sudah menyampaikan potensi koreksi IHSG. Pada perdagangan hari ini, proyeksi tersebut terealisasi,” ujarnya.

        Baca Juga: BEI Tetap Minta Equal Treatment ke MSCI di Tengah Tekanan IHSG

        Ia menjelaskan, tekanan terhadap IHSG kali ini dipicu oleh kondisi pasar yang mendorong panic selling secara masif, terutama pada saham-saham yang sebelumnya berada pada level valuasi tinggi. Gema menyebut fenomena tersebut sebagai Defect System, yang membuat sentimen negatif menyebar luas tanpa diiringi penyaringan fundamental yang memadai.

        Menurutnya, situasi ini memiliki kemiripan dengan kondisi pasar saat pengumuman Tariff War 2025, ketika tekanan sentimen mendominasi pergerakan harga saham.

        Selain faktor teknikal dan sentimen, Gema juga menyinggung adanya siklus waktu tertentu yang bertepatan dengan tekanan pasar saat ini, yakni Mars Conjunction Pluto pada 28 Januari 2026, yang menurut catatan historisnya pernah muncul pada 24 Maret 2020, bertepatan dengan fase akhir kejatuhan pasar akibat pandemi COVID-19.

        “Mars Conjunction Pluto kerap muncul pada fase tekanan puncak pasar. Dalam sejumlah kasus, fase ini menjadi bagian dari proses bottoming,” jelasnya.

        Gema menilai, penurunan IHSG kali ini menjadi konfirmasi dimulainya Major Cycle Wave 4. Berdasarkan analisis yang ia sampaikan, target koreksi awal IHSG berada di area 8.200. Jika tekanan berlanjut, indeks berpotensi menguji area 7.956–7.670, bahkan hingga 6.085 sebagai bagian dari penyesuaian teknikal historis.

        Meski demikian, Gema menegaskan investor ritel tidak perlu bereaksi berlebihan. Ia mencatat IHSG telah menyentuh area support penting di sekitar 8.242, yang membuka peluang terjadinya rebound jangka pendek untuk menutup celah harga yang terbentuk pada perdagangan hari ini.

        “Pada titik ini, waktu dan harga bertemu. IHSG memiliki peluang melakukan penguatan jangka pendek, meskipun koreksi besar belum sepenuhnya selesai,” tegasnya.

        Baca Juga: Bos Bursa Ungkap IHSG Anjlok karena Panic Selling

        Dalam menghadapi kondisi pasar, Gema menyarankan investor untuk mencermati area support kunci, menunggu konfirmasi sebelum masuk ke pasar, serta menghindari saham yang telah berada pada kondisi overvalued.

        Ia juga menilai sektor perbankan relatif lebih defensif di tengah koreksi IHSG. Menurutnya, sektor tersebut masih berada dalam kondisi underperform dibandingkan sektor lain yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan.

        “Sektor perbankan masih memiliki ruang pergerakan yang lebih sehat dibandingkan saham-saham yang sudah mengalami tekanan jual,” ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: