Kredit Foto: BEI
Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengungkapkan pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menembus penurunan lebih dari 8% dipicu aksi panic selling pelaku pasar.
Tekanan tersebut terjadi seiring kekhawatiran investor terhadap kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait pembekuan sementara (interim freeze) perubahan indeks saham Indonesia.
Iman mengatakan kepanikan pasar dipicu dua faktor utama, yakni keputusan MSCI melakukan pembekuan rebalancing indeks pada Februari serta kekhawatiran lanjutan terhadap potensi penurunan status Indonesia di indeks global.
“Jadi hasil daripada apa yang terjadi hari ini memang ada panic selling karena dua hal yang disampaikan di concern. Pertama, untuk bulan Februari rebalancing-nya di-freeze,” ujarnya, di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Baca Juga: IHSG Terjun 8% Karena MSCI, Danantara Janji akan Segera Beraksi
Ia menjelaskan kebijakan freeze tersebut berarti tidak ada penambahan maupun pengurangan konstituen saham Indonesia di indeks MSCI. Namun, kekhawatiran investor muncul karena MSCI menilai data transparansi yang disampaikan otoritas pasar modal Indonesia belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan mereka.
“Yang jadi concern adalah kalau data yang mereka minta tidak terpenuhi sampai dengan transparansi itu, sampai dengan bulan Mei mereka akan menurunkan peringkat kita dari emerging market menjadi frontier market,” kata Iman.
Iman memaparkan, MSCI telah melakukan konsultasi sejak akhir 2025 terkait proposal perubahan metodologi perhitungan free float, termasuk pemisahan kategori kepemilikan saham korporasi dan others. Dalam proses tersebut, BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) secara intensif berdiskusi langsung dengan MSCI.
“Kami Bursa, OJK, dan KSEI secara langsung berdiskusi dengan MSCI. Keberatan pertama kami adalah pengenaan proposal tersebut tidak berlaku di bursa lain, sehingga kami meminta equal treatment sebagai konstituen indeks,” ujarnya.
Baca Juga: IHSG Kena Trading Halt! Saham Konglo dan Bank Jumbo Berguguran
Selain itu, BEI juga menyampaikan sejumlah opsi teknis untuk membantu MSCI menghitung data free float saham di Indonesia. Sebagai bagian dari tindak lanjut, BEI mulai 2 Januari 2026 telah memublikasikan data free float berdasarkan segmentasi yang lebih rinci di situs resmi bursa.
“Per 2 Januari sudah kami tampilkan data free float per segmen. Diskusi itu berlangsung terus dengan MSCI sampai dengan minggu lalu dan hasilnya baru kami terima hari ini,” kata Iman.
Iman menegaskan BEI menghormati metodologi dan independensi MSCI, sekaligus melihat permintaan transparansi tersebut sebagai momentum perbaikan pasar modal domestik.
“Kami berkomitmen terbaik untuk bisa memenuhi transparansi karena ini bukan hanya baik buat MSCI, tetapi juga baik buat pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga: IHSG Babak Belur, BEI Janji Kerahkan Seluruh Upaya Stabilkan Pasar
Di sisi lain, Iman menilai dampak jangka pendek dari kebijakan MSCI relatif terbatas. Selama periode Februari hingga Mei 2026, jumlah emiten Indonesia di indeks MSCI diperkirakan tetap, dengan pangsa pasar sekitar 1,5%.
“Market share kita yang saat ini 1,5% di MSCI akan stay di 1,5%,” katanya.
Sebelumnya, IHSG ambruk hingga 8% dan memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) di BEI pada Rabu (28/1/2026). Kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas serta Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00002/BEI/04-2025 sebagai bagian dari market safeguard dalam kondisi volatilitas ekstrem.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement