Dunia Mesti Waspada, Ekonom Sebut Trump Bisa Politisasi Fasilitas Swap Dolar The Fed
Kredit Foto: Antara/Putu Indah Savitri
Dunia mesti waspada terhadap salah satu instrumen paling penting milik Federal Reserve (The Fed). Hal yang harusnya digunakan untuk menstabilkan pasar keuangan global dapat dipolitisasi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Eks Pejabat Tinggi Dana Moneter Internasional (IMF) Kenneth Rogoff mengatakan bahwa fasilitas swap line dolar berpotensi dijadikan alat tekanan oleh Trump.
Baca Juga: Donald Trump Ultimatum Iran: Perang atau Berunding Soal Nuklir
Fasilitas swap line berfungsi sebagai jalur pendanaan darurat dan memainkan peran krusial selama krisis keuangan global hampir dua dekade lalu, ketika bank sentral di seluruh dunia menghadapi kekurangan likuiditas dolar.
Trump dengan pendekatan kebijakan yang tidak terduga, termasuk ancaman tarif terhadap sekutunya membuat politisasi instrument tersebut menjadi sebuah kemungkinan yang nyata.
“Persenjataan dolar bukanlah hal baru. Ini sudah terjadi sejak tahun 1950-an,” kata Rogoff, dilansir dari Reuters, Kamis (29/1).
“Namun saya tidak akan terkejut jika dia menggunakan persenjataan tersebut, misalnya melalui swap line," tambahnya.
Ia menambahkan bahwa fasilitas tersebut dapat digunakan sebagai alat tawar dalam konflik perdagangan.
“Sebagai contoh, swap line bisa digunakan terhadap Meksiko. Hal itu jika terjadi perselisihan soal tarif,” ujar Rogoff.
Tahun lalu, penerapan tarif impor besar-besaran telah memicu perdebatan dalam kalangan pejabat mengenai perlunya membangun alternatif terhadap backstop dar The Fed. Hal itu termasuk dengan menggabungkan cadangan dolar yang dimiliki bank sentral non-AS untuk mengurangi ketergantungan pada Washington.
Baca Juga: Ini Bukti yang Sangat Jelas Kalau Trump Suka Intervensi Negara Lain
Amerika Serikat selama ini menikmati permintaan global yang sangat besar terhadap asetnya, termasuk mata uang dolar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: