Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Ancam Hantam Iran 20 Kali Lebih Keras Jika Selat Hormuz Diblokir, Sebut Ancaman Itu Hadiah untuk China

Trump Ancam Hantam Iran 20 Kali Lebih Keras Jika Selat Hormuz Diblokir, Sebut Ancaman Itu Hadiah untuk China Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran lewat platform Truth Social pada Senin, 9 Maret, menyebut negara itu akan dihantam dua puluh kali lebih keras jika mengganggu aliran minyak di Selat Hormuz.

Yang menarik, Trump membingkai ancaman militer itu bukan sebagai provokasi, melainkan sebagai gestur diplomatik untuk Beijing.

"Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat DUA PULUH KALI LEBIH KERAS dari yang telah mereka terima sejauh ini," tulis Trump.

Ia menyebut ancaman tersebut sebagai "hadiah dari Amerika Serikat kepada China, dan semua negara yang banyak menggunakan Selat Hormuz."

Framing itu memunculkan ironi geopolitik yang sulit diabaikan. Di saat Washington tengah menaikkan tarif dagang terhadap Beijing dan bersaing di hampir setiap lini kebijakan global, Trump justru memosisikan ancaman militernya ke Iran sebagai bentuk kepedulian terhadap kepentingan China.

Titik temu keduanya ada di Selat Hormuz. Jalur ini biasanya mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari dan menanggung sekitar 20 persen konsumsi minyak global, sehingga gangguan di sana berdampak langsung pada ekonomi AS maupun China.

Melansir CNBC, harga minyak Brent dilaporkan sempat melonjak tajam setelah pernyataan Trump sebelum kemudian turun sekitar 8 persen ke kisaran 91 dolar AS per barel, setara sekitar Rp1.483.300, setelah Trump menyatakan di CBS News bahwa perang dengan Iran sudah selesai.

Pergerakan harga dalam satu hari itu mencerminkan betapa sensitifnya pasar energi global terhadap setiap sinyal dari Washington.

Laporan dari The Hill, lalu lintas kapal di Selat Hormuz disebut turun drastis dalam 24 jam terakhir, jauh dari rata-rata normal sekitar 60 kapal per hari. Kondisi itu diklaim telah mendorong harga bensin di Amerika Serikat naik hampir 50 sen per galon, setara sekitar Rp8.150, hanya dalam sepekan.

Menurut The Mirror, seorang ekonom dari Cornell University menyebut situasi ini sebagai guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, tiga hingga empat kali lebih banyak barel minyak yang hilang dibandingkan krisis minyak 1973 dan 1979.

Klaim itu belum dikonfirmasi secara independen, namun mencerminkan kekhawatiran kalangan akademisi terhadap dampak jangka panjang ketegangan di jalur energi tersebut.

Iran tidak tinggal diam. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei memperingatkan kapal tanker asing yang hendak melintas Selat Hormuz untuk sangat berhati-hati.

"Mereka sudah menembakkan semua yang mereka punya, dan lebih baik mereka tidak mencoba hal-hal bodoh, atau itu akan menjadi akhir dari negara itu... Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, itu akan menjadi akhir Iran, dan Anda tidak akan pernah mendengar nama itu lagi," kata Trump dikutip dari Washington Examiner.

Di waktu yang bersamaan, Trump juga menyebut situasi ini sebagai "a little excursion" yang akan segera berakhir, kontradiksi retorika yang membuat pasar dan analis kesulitan membaca arah kebijakan sesungguhnya.

Baca Juga: Trump Butuh Jalur Rusia ke Teheran, Putin Datang dengan Proposal Damai Iran di Tangan

Pejabat Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut terhadap infrastruktur energi bisa mendorong harga minyak global menembus 200 dolar AS per barel, setara sekitar Rp3.260.000.

Jika Teheran memilih bertahan alih-alih mundur, ketegangan di Selat Hormuz bukan lagi urusan bilateral antara Iran dan Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat