- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Hari Ini Ditutup Ambles 4,88% ke 7.922, Saham Konglo Rontok hingga ARB
Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak mampu membalikkan posisi hingga akhir perdagangan Senin, 2 Februari 2026. Pelaku pasar tampak masih menantikan kepastian hasil pertemuan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan pengelola Indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berlangsung sore ini.
Mengacu data RTI, IHSG ditutup ambles 406,87 poin setara 4,88% ke level 7.922,73, bahkan sempat jatuh ke posisi 7.820,22. Sebanyak 720 saham melemah, hanya 58 saham yang menguat dan 36 saham tampak tidak bergerak.
Hingga akhir perdagangan, IHSG mencatatkan volume transaksi 50,39 miliar lembar saham dengan frekuensi 2.948.983 kali. Adapun nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp29,17 triliun.
Baca Juga: IHSG Masih Tertekan, Keputusan MSCI Jadi Penentu Arah Pasar
Sejumlah saham konglomerat mengalami penurunan tajam hingga menembus batas auto rejection bawah (ARB). Saham emiten Prajogo Pangestu PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) memimpin dengan koreksi 15% ke level Rp1.530. Diikuti emiten Bakrie Group PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang anjlok 15% ke Rp1.105 dan emiten Manoj Punjabi PT MD Entertainment Tbk (FILM) yang ambruk 15% ke Rp12.325.
Meski begitu, beberapa saham tetap melesat di tengah pelemahan indeks di antaranya PT Inter-Delta Tbk (INTD) yang terbang 24,8% ke Rp312. Disusul PT Soho Global Health Tbk (SOHO) yang meroket 24,79% ke Rp2.240 dan PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID) yang menguat 17,95% ke Rp138.
Saham terlaris hari ini adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan nilai transaksi Rp2,81 triliun, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp2,45 triliun dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp1,45 triliun.
Baca Juga: Sengatan MSCI Berlanjut, Nomura Ikut Turunkan Peringkat Saham RI
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengatakan pertemuan dengan MSCI hari ini untuk membahas pendalaman pasar modal Indonesia, termasuk upaya meningkatkan partisipasi investor global dan bobot Indonesia dalam indeks global.
Agenda pertemuan dengan MSCI juga mencakup penyampaian kondisi operasional bursa yang tetap berjalan normal serta langkah-langkah percepatan reformasi dan pendalaman pasar modal dari sisi permintaan (demand).
“Dari SRO atau Bursa Efek Indonesia, pertama yang ingin kami sampaikan adalah bahwa operasional Bursa Efek Indonesia, baik kesiapan sistem perdagangan, pelayanan kepada seluruh stakeholders maupun proses pengambilan keputusan berjalan secara normal tanpa ada gangguan apa pun,” kata Jeffrey, Minggu (2/2).
Baca Juga: Soal Plt Dirut BEI,, Ini Penjelasan OJK
Menurut dia, BEI juga akan memaparkan upaya percepatan pendalaman pasar, khususnya untuk menarik lebih banyak investor global. BEI telah menampung berbagai concern dari global index provider dan melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah penyedia indeks.
“Dalam konteks pendalaman pasar dari sisi demand, khususnya bagaimana mendatangkan lebih banyak investor global. Kami sudah menampung banyak concern dari global index provider dan kami sudah berkomunikasi dengan beberapa index provider. Minggu lalu kami juga berkomunikasi, dan besok kami akan berkomunikasi lagi dengan MSCI,” ujarnya.
Jeffrey menyampaikan BEI akan menjelaskan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan bobot Indonesia dalam konstituen indeks global. Salah satu fokus utama adalah peningkatan keterbukaan informasi (disclosure) yang sejalan dengan praktik bursa global.
“Kami SRO akan meningkatkan disclosure. Melengkapi disclosure yang sudah kami sampaikan kepada publik melalui website Bursa Efek Indonesia di awal Januari kemarin,” kata Jeffrey.
Baca Juga: Tak Penuhi Aturan Free Float, 38 Saham Dibekukan Sementara!
BEI, lanjut dia, akan meningkatkan keterbukaan data kepemilikan saham secara lebih umum, termasuk data pemegang saham di bawah 5% agar setara dengan praktik bursa global lainnya. Kebijakan tersebut akan mulai diterapkan pada awal Februari 2026.
Selain itu, BEI bersama KSEI akan memperbaiki klasifikasi tipe investor agar lebih rinci dan komprehensif. Saat ini terdapat sembilan kategori Single Investor Identification (SID) yang akan disesuaikan dengan global best practice.
“Kami akan menambahkan kategori lain dalam klasifikasi investor sesuai dengan kategori yang diharapkan oleh MSCI. Ini mencakup klasifikasi seperti sovereign wealth fund, private equity, investment advisor, discretionary fund, dan lain-lain,” ujar Jeffrey.
BEI akan memulai sosialisasi kepada pelaku pasar pada pekan ini dan meminta pelaku pasar, custodian bank, serta pemangku kepentingan lainnya melakukan remapping klasifikasi investor. Proses tersebut ditargetkan rampung paling lambat April 2026, sebelum timeline yang ditetapkan MSCI.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: