Kredit Foto: Uswah Hasanah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok 5,91% sepanjang perdagangan 9-13 Maret 2026 menjadi 7.137,21 dari posisi 7.585,69 pada pekan sebelumnya. Pelemahan tajam tersebut terutama dipicu oleh tekanan sejumlah saham berkapitalisasi besar milik kelompok konglomerasi yang memberikan kontribusi negatif signifikan terhadap indeks.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik konglomerat Prajogo Pangestu menjadi kontributor terbesar penurunan IHSG selama sepekan. Saham perusahaan energi terbarukan tersebut menekan indeks hingga 52,74 poin setelah harga sahamnya terkoreksi 18,45%.
Tekanan berikutnya datang dari saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang juga terafiliasi dengan kelompok usaha Prajogo Pangestu melalui Grup Barito. Saham emiten tambang tersebut menyumbang penurunan sebesar 35,65 poin terhadap IHSG setelah harga sahamnya turun 19,18%.
Selain itu, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang berada di bawah Grup Sinar Mas milik keluarga Widjaja turut memberikan kontribusi pelemahan indeks sebesar 29,99 poin.
Sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar juga ikut memperdalam pelemahan IHSG. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menekan indeks sebesar 25,15 poin setelah harga sahamnya turun 4,36%.
Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang merupakan emiten telekomunikasi pelat merah juga memberikan dampak negatif sebesar 23,14 poin setelah harga sahamnya terkoreksi 6,9%.
Tekanan tambahan datang dari saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), bank milik negara yang menyumbang penurunan sebesar 17,86 poin setelah harga sahamnya turun 4,62%.
Sementara itu, saham PT Astra International Tbk (ASII) yang berada di bawah Grup Astra milik keluarga Hartono melalui Jardine Cycle & Carriage turut menekan IHSG sebesar 12,29 poin.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dikendalikan oleh Grup Djarum milik keluarga Hartono juga memberikan kontribusi negatif sebesar 11,84 poin terhadap indeks.
Selain saham-saham tersebut, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang merupakan perusahaan petrokimia milik Prajogo Pangestu turut menekan IHSG sebesar 10,61 poin setelah harga sahamnya terkoreksi 11,9%.
Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang berada di bawah Grup Bakrie milik keluarga Bakrie juga memperburuk pelemahan indeks dengan kontribusi negatif sebesar 10,44 poin setelah harga sahamnya merosot 22,74%.
Secara keseluruhan, tekanan dari saham-saham berkapitalisasi besar yang berasal dari berbagai kelompok usaha besar tersebut menjadi faktor utama yang mendorong IHSG melemah tajam selama sepekan perdagangan.
Penurunan indeks juga terjadi di tengah melemahnya aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Rata-rata nilai transaksi harian turun 31,10% menjadi Rp17,20 triliun dibandingkan pekan sebelumnya sebesar Rp24,97 triliun.
Baca Juga: IHSG Anjlok Hampir 6%, Terburuk di Asia
Baca Juga: IHSG Hari Ini Ditutup Anjlok 3,05% ke 7.137, Saham Konglomerat Berguguran!
Baca Juga: IHSG Hari Ini Ditutup Anjlok 3,05% ke 7.137, Saham Konglomerat Berguguran!
Volume transaksi harian juga menyusut 25,49%, sementara frekuensi perdagangan turun 31,54%.
Dari sisi investor, pelaku pasar asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,57 triliun selama periode tersebut. Kondisi ini berbalik dari pekan sebelumnya ketika investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp2,23 triliun.
Pelemahan indeks juga tercermin dari pergerakan mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia. Sebanyak 620 saham tercatat mengalami penurunan harga lebih dari 2%, sedangkan hanya 81 saham yang mencatat kenaikan lebih dari 2%.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: