Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gempuran LFP Nyata, Bos IBC Buka-Bukaan Soal Nasib Baterai Nikel RI

        Gempuran LFP Nyata, Bos IBC Buka-Bukaan Soal Nasib Baterai Nikel RI Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif, menegaskan komitmen perusahaan untuk tetap fokus pada pengembangan baterai berbasis Nickel Manganese Cobalt (NMC). Meski tren pasar baterai dunia mulai diramaikan oleh Lithium Iron Phosphate (LFP), IBC menilai keunggulan cadangan nikel Indonesia tetap menjadi kunci utama.

        Adit menjelaskan bahwa teknologi baterai masa depan justru masih akan sangat bergantung pada komoditas nikel. Berdasarkan data USGS Mineral Commodity Summaries 2025, Indonesia saat ini merupakan pemegang cadangan nikel terbesar di dunia dengan total 55 juta metrik ton.

        "Jadi oleh karena itu apabila kita mengacu pada teknologi per hari ini saja kita masih sangat optimis bahwa kita bisa memasarkan baterai ion litium berbasis katoda nikel kita. Terlebih kalau kita melihat future technology," ujar Adit dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (2/2/2026).

        Baca Juga: Saham PLN di IBC Susut Jadi 7,5%, MIND ID Kini Kuasai 67,5%

        Menurut Adit, setelah era litium, akan muncul generasi baterai baru seperti Sodium-Ion dan Solid-State Battery. Dalam kedua teknologi tersebut, nikel diprediksi tetap memegang peranan krusial sebagai komponen utama.

        "Kemudian juga setelah sodium ion battery kemungkinan nanti akan ada solid state battery atau baterai ion litium biasa tapi elektrolitnya itu padatan itu juga nanti kandidat utamanya masih pakai nikel juga," sebutnya.

        Meski optimistis secara teknologi, IBC mengakui adanya tantangan persaingan harga dengan baterai LFP. Untuk itu, Adit meminta dukungan legislatif agar pemerintah memberikan stimulus guna menjaga daya saing produk dalam negeri.

        "Kami berharap memang ada ada insentif begitu dari pemerintah supaya nanti di dalam waktu dekat ini ini supaya nanti kita bisa apa namanya comparable antara khususnya baterai yang jenis menggunakan katoda nikel dan yang menggunakan katoda LFP sehingga masyarakat nanti memiliki peluang untuk memilih begitu Pak," tambah Adit.

        Baca Juga: IBC Minta Tiga Dukungan DPR untuk Akselerasi Industri Baterai Terintegrasi

        Terkait infrastruktur, IBC melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB)—perusahaan patungan dengan CBL International Development PTE. Ltd—sedang mengebut pembangunan pabrik baterai di Karawang. Proyek bertajuk "Dragon" ini memiliki kapasitas 6,9 Giga Watt hour (GWh) pada fase pertama.

        Fasilitas tersebut direncanakan memproduksi sel baterai kendaraan listrik dan Battery Energy Storage System (BESS). Manajemen menyatakan tengah berupaya memajukan jadwal operasional dari target awal.

        “Izin, jadi memang sebenarnya planning-nya itu Q3 Pak, di September, tapi kita best effort untuk kita coba akselerasi Pak, di bulan Juli,” tandas Director of Corporate Public Affairs PT CATIB, Bayu Hermawan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: