Apa Itu Perjanjian Senjata Nuklir New START? Dimulai Barack Obama dan Berakhir di Donald Trump
Kredit Foto: Twitter/Oleksii Reznikov
Pilar terakhir pengendalian senjata nuklir dunia ambruk hari ini, Kamis (5/2/2026), seiring berakhirnya masa berlaku Perjanjian New START atau Strategic Arms Reduction Treaty antara Amerika Serikat dan Rusia tanpa adanya kesepakatan pengganti.
Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk membiarkan perjanjian itu kadaluarsa menandai babak baru yang gelap dalam diplomasi keamanan global.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, kedua negara adidaya pemilik 90% persenjataan nuklir dunia tidak lagi terikat oleh batasan hukum internasional terkait jumlah dan jenis hulu ledak strategis mereka.
Apa Itu New START?
Ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, New START mulai berlaku pada 2011. Perjanjian ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan AS dan Rusia masing-masing hingga 1.550 unit.
Selain itu, New START juga membatasi jumlah peluncur strategis, seperti rudal balistik antarbenua, rudal balistik kapal selam, dan pembom berat hanya 800, dengan 700 di antaranya dalam status "dikerahkan".
Yang tak kalah penting, perjanjian ini menjamin transparansi melalui mekanisme 18 inspeksi langsung ke fasilitas nuklir per tahun dan pertukaran data dua kali setahun.
Perjanjian sempat diperpanjang lima tahun pada 2021, namun masa perpanjangan itu berakhir hari ini tanpa kemungkinan perpanjangan lebih lanjut.
Baca Juga: PBB Panik Lihat Rusia dan Amerika Serikat (AS) Kini Bebas Kembangkan Senjata Nuklir
Dengan berakhirnya New START, lenyap pula rezim verifikasi dan transparansi yang menjadi rem utama pencegahan perlombaan senjata nuklir selama lebih dari lima dekade ini.
Tak hanya bagi AS dan Rusia, berakhirnya New START menempatkan Cina dalam posisi unik. Diketahui, Tiongkok konsisten menolak ajakan AS untuk bergabung dalam perundingan pelucutan senjata trilateral. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, pada Selasa (3/2) mengatakan bahwa kekuatan nuklir Tiongkok dan AS sama sekali tidak setara, sehingga meminta Tiongkok untuk bergabung dalam perundingan pengurangan senjata dirasa tidak adil.
Dengan akselerasi program nuklirnya, Tiongkok dilaporkan menargetkan dapat menyamai jumlah nuklir AS dan Rusia pada tahun 2030 mendatang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: