Kredit Foto: Azka Elfriza
Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai keputusan lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service (Moody’s) yang menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif berpotensi berdampak tidak langsung terhadap industri peer-to-peer (P2P) lending atau pindar dalam jangka panjang. Penilaian tersebut disampaikan AFPI di Jakarta, Kamis (5/2/2026), merespons afirmasi peringkat kredit Indonesia pada level Baa2.
Ketua Bidang Hubungan Masyarakat AFPI, Kuseryansyah, mengatakan pihaknya berharap peringkat kredit Indonesia tetap terjaga karena stabilitas peringkat negara menjadi faktor penting dalam menjaga iklim investasi dan kepercayaan pasar, termasuk bagi sektor jasa keuangan berbasis teknologi.
“Ya kita berharap ini ya, berharap apa namanya, rating Indonesia itu tetap terjaga baik. Dan ini kami percaya bahwa pemerintah akan lakukan hal yang terbaik untuk mengklarifikasi, verifikasi, begitu,” ujar Kuseryansyah saat ditemui dalam acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) Tahun 2026, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Baca Juga: Respons Outlook Negatif Moody’s, Airlangga: Mereka Perlu Penjelasan Pemerintah
AFPI menilai penilaian lembaga pemeringkat global umumnya menjadi rujukan investor, baik domestik maupun asing, dalam membaca risiko dan prospek perekonomian suatu negara. Karena itu, respons pemerintah dipandang krusial untuk memastikan sentimen pasar tidak berkembang negatif dan tidak menimbulkan tekanan berlebihan pada sektor keuangan nasional.
Menurut AFPI, pengaruh perubahan outlook tersebut terhadap industri pindar tidak bersifat langsung. Industri pendanaan digital dinilai masih memiliki fundamental yang relatif terpisah dari dinamika jangka pendek terkait persepsi risiko negara.
“Kalau dampak ke industri pindar ya kalau dalam jangka panjang bisa, tapi kami meyakini dampaknya ya tidak bisa tidak langsung ya, bisa tidak langsung dan kita berharap ya pemerintah akan melakukan effort terbaik untuk itu. Gitu aja,” kata Kuseryansyah.
Baca Juga: Outlook Negatif dari Moody’s Dinilai Jadi Alarm Keras untuk Kebijakan Prabowo
AFPI menyebutkan, dalam jangka pendek, aktivitas pendanaan digital lebih dipengaruhi oleh faktor domestik seperti permintaan pembiayaan, kualitas penyaluran, serta pengelolaan risiko masing-masing platform. Namun demikian, dalam jangka panjang, perubahan persepsi investor global terhadap risiko negara tetap dapat memengaruhi biaya pendanaan dan arus investasi ke sektor keuangan, termasuk industri pindar.
Sebagai informasi, Moody’s pada 5 Februari 2026 merilis hasil penilaian terbaru atas kredit Indonesia dengan mempertahankan peringkat pada level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade, namun menyesuaikan outlookdari stabil menjadi negatif. Penyesuaian outlook tersebut mencerminkan pandangan Moody’s terhadap meningkatnya risiko ketidakpastian kebijakan yang dinilai berpotensi memengaruhi kinerja perekonomian ke depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: