Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bitcoin Masih Terjerembab di US$70 Ribuan, Analisis Pesimis Mulai Menguat

        Bitcoin Masih Terjerembab di US$70 Ribuan, Analisis Pesimis Mulai Menguat Kredit Foto: Unsplash/Jonathan Borba
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga Bitcoin (BTC) terus turun sejak Oktober 2025. Melansir Google Finance, harga Bitcoin per awal hari di 7 Februari 2026 tercatat fluktuatif di kisaran US$70.000. Meski naik tipis dari posisi terendahnya kemarin di US$61.000, tetapi masih jauh dibanding harga terbaik di Oktober 2025, yaitu lebih dari US$123.000.

        Sejumlah analis memperingatkan bahwa fase koreksi ini diperkirakan belum akan berakhir. Bahkan, lembaga keuangan global memberikan proyeksi yang sangat hati-hati terhadap aset kripto terbesar ini.

        Lembaga jasa keuangan Stifel memprediksi potensi koreksi tajam berlanjut pada Bitcoin. Analis Stifel, Barry B. Bannister, dalam analisisnya berdasarkan tren historis sejak 2010, memperkirakan Bitcoin berpotensi mengalami kejatuhan hingga level US$38.000. 

        Prediksi ini didasarkan pada pola garis tren yang menghubungkan titik-titik terendah Bitcoin dalam setiap siklus bear market besar, yaitu penurunan 93% (2011), 84% (2015), 83% (2018), dan 76% (2022). Garis tren tersebut saat ini mengarah ke support kritis sekitar US$38.000.

        Sementara itu, Deutsche Bank dalam laporan terbarunya mengidentifikasi tiga faktor utama yang membebani performa Bitcoin:

        • Arus keluar modal institusional yang berkelanjutan.
        • Rusaknya hubungan historis Bitcoin dengan pasar keuangan tradisional, seperti emas dan saham.
        • Melemahnya momentum regulasi yang sebelumnya mendukung likuiditas dan menekan volatilitas.

        Bank asal Jerman itu menyatakan bahwa fase saat ini lebih mencerminkan proses penyesuaian ulang (recalibration) dibanding keruntuhan pasar total. Periode ini menjadi ujian kematangan bagi Bitcoin untuk melampaui kenaikan yang hanya didorong sentimen dan kembali mendapatkan dukungan regulasi serta modal institusional yang solid.

        Deutsche Bank juga menyoroti melemahnya peran Bitcoin sebagai aset lindung nilai, terlihat dari korelasi yang merosot tajam dengan emas. Sementara itu, korelasinya dengan pergerakan saham, terutama saham teknologi, juga turun signifikan ke kisaran belasan persen.

        Dari dalam negeri, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menyebut tekanan jual terjadi secara bersamaan dari berbagai sisi, sehingga mempercepat laju koreksi. Selain likuidasi, tekanan signifikan datang dari investor institusional besar.

        Aktivitas pada Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin menunjukkan dinamika menarik. ETF Bitcoin spot BlackRock, IBIT, mencatat volume perdagangan harian tertinggi melampaui US$10 miliar. Namun, volume tinggi itu diiringi dengan penurunan harga unit dan arus dana keluar dalam jumlah besar, menandakan aksi pelepasan kepemilikan oleh institusi.

        Dari perspektif teknikal, Antony menegaskan bahwa Bitcoin telah kehilangan area support kritisnya. “Bitcoin telah kehilangan area support di kisaran US$65.000 hingga US$62.000. Jebolnya level tersebut memicu stop-loss beruntun dan membuka ruang penurunan ke area US$60.000,” jelasnya.

        Dengan berbagai tekanan fundamental, institusional, dan teknikal ini, pasar memantau ketat apakah Bitcoin mampu menemukan dasar yang kuat atau akan melanjutkan pergerakannya menuju level yang diprediksi para analis pesimistis.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: