Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Elev8: Harga Emas Diperkirakan Meningkat, Bitcoin Masih Suram Tahun Ini

Elev8: Harga Emas Diperkirakan Meningkat, Bitcoin Masih Suram Tahun Ini Kredit Foto: Unsplash/André François McKenzie
Warta Ekonomi, Jakarta -

Memasuki tahun 2026, lanskap ekonomi Asia menunjukkan dinamika yang berbeda-beda. Perusahaan riset Elev8 dalam laporannya memproyeksikan bahwa tahun ini akan menjadi masa peralihan strategis, di mana para pelaku pasar mulai beralih dari investasi reaktif terhadap isu jangka pendek menuju pandangan pada fundamental ekonomi jangka panjang.

Di kawasan Asia, Elev8 memperkirakan ekonomi akan berbeda-beda. Elev8 menyebut Tiongkok sedang mengalami fase “ekonomi dua kecepatan”. Sektor-sektor lama seperti properti masih tertekan, namun sektor baru seperti teknologi tinggi, energi hijau, dan kecerdasan buatan justru melesat.

Tiongkok dan India diperkirakan akan mengalami perlambatan siklus ekonomi. Sebaliknya, Jepang dan Korea Selatan diproyeksikan tumbuh lebih baik berkat dorongan stimulus fiskal yang masih berlanjut.

Dari sisi nilai tukar, pergerakan mata uang Asia juga tidak akan seragam. Yuan China, won Korea Selatan, rupee India, yen Jepang, dan rupiah Indonesia dinilai masih memiliki ruang penguatan. Sementara dolar Singapura, ringgit Malaysia, dolar Taiwan, dan baht Thailand dianggap telah mendekati nilai wajarnya.

Harga emas dan perak sempat menorehkan rekor tertinggi pada awal 2026 sebelum akhirnya terkoreksi tajam. Meskipun volatilitas masih tinggi, Elev8 menilai tren jangka panjang logam mulia tetap positif.

Penurunan suku bunga riil dan pelemahan dolar Amerika Serikat menjadi katalis utama penguatan emas. Selain itu, akumulasi cadangan emas oleh sejumlah bank sentral turut memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Elev8 memperkirakan harga emas akan bergerak rata-rata di kisaran 5.400 dolar AS per troy ons sepanjang tahun 2026, dengan potensi kenaikan lebih lanjut jika aksi beli bank sentral terus berlanjut.

Memasuki tahun 2026, Bitcoin menghadapi tekanan kuat. Dalam lima pekan pertama tahun ini, nilainya sempat ambles sekitar sepertiga hingga menyentuh level 60.000 dolar AS. Meski telah sedikit pulih, kinerja aset kripto terbesar ini masih tercatat negatif secara tahunan.

Elev8 mencatat bahwa Bitcoin kini telah menjadi aset yang lebih terinstitusionalisasi, didukung oleh hadirnya ETF spot dan adopsi korporasi. Namun, ketatnya kebijakan moneter global membuat peluang mencetak rekor harga baru tahun ini semakin tipis. Pergerakan harga justru diperkirakan akan cenderung datar dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Meski demikian, secara fundamental, peningkatan jumlah uang beredar global masih dapat menjadi penopang jangka panjang bagi Bitcoin.

Baca Juga: Sudah Ada Polanya, Analis Sebut Harga Bitcoin (BTC) Akan Turun Jadi Segini

Empat Ancaman Stabilitas Global Menurut Elev8

Dalam analisisnya, Elev8 juga menyoroti empat risiko besar yang berpotensi memicu krisis global sepanjang tahun 2026:

1. Gelembung AI Pecah

Raksasa teknologi Amerika Serikat seperti Google, Microsoft, Meta, dan Amazon berencana menggelontorkan dana lebih dari 600 miliar dolar AS untuk investasi di bidang kecerdasan buatan. Jika proyek-proyek ambisius ini gagal menghasilkan keuntungan yang sepadan, pasar saham global berisiko mengalami koreksi tajam.

2. Lonjakan Harga Minyak

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Rusia dan Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia. Eskalasi konflik dapat memicu lonjakan harga energi dan mendorong inflasi global kembali naik.

3. Perang Dagang AS-China Kembali Memanas

Kesepakatan dagang sementara antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia akan memasuki babak negosiasi ulang pada 2026. Kegagalan mencapai kesepakatan dapat memicu hambatan perdagangan baru dan mengganggu rantai pasok global.

4. Krisis Utang Negara

Meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kemampuan pemerintah membayar utang dapat memicu lonjakan imbal hasil obligasi. Dalam skenario terburuk, sejumlah negara mungkin kembali melakukan pencetakan uang yang justru berisiko melemahkan nilai tukar mata uang mereka.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: