Kredit Foto: Unsplash/Kanchanara
Harga Bitcoin dinilai masih berpotensi melemah atau bergerak stagnan dalam jangka menengah sebelum membentuk reli berkelanjutan. CEO CryptoQuant Ki Young Ju memetakan dua skenario utama pemulihan harga Bitcoin di tengah tekanan pasar global yang belum mereda, Rabu (18/2/2026).
Ju menyebut skenario pertama adalah penurunan harga Bitcoin menuju level harga realisasi sekitar US$55.000 atau setara Rp928,6 juta dengan asumsi kurs Rp16.884 per dolar AS. Harga realisasi tersebut mencerminkan rata-rata biaya akuisisi seluruh pemegang Bitcoin berdasarkan data transaksi on-chain.
Menurut Ju, secara historis Bitcoin kerap menguji ulang harga realisasi untuk membangun fondasi kenaikan baru yang lebih kuat. Penurunan ke level tersebut dinilai menjadi fase penyesuaian sebelum terbentuk momentum reli selanjutnya.
Skenario kedua adalah pergerakan harga yang cenderung sideways atau konsolidasi jangka panjang di kisaran US$60.000 hingga US$70.000, setara Rp1,01 miliar hingga Rp1,18 miliar. Dalam pola ini, harga diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas selama beberapa bulan sebelum melanjutkan tren kenaikan berikutnya.
Baca Juga: ETF Bitcoin (BTC) BlackRock Diborong Raksasa Investor Abu Dhabi
Ju menegaskan bahwa hingga saat ini prasyarat untuk reli berkelanjutan belum terpenuhi. Ia menyoroti perlambatan aliran dana ke produk exchange-traded fund (ETF), meredanya permintaan over-the-counter (OTC), serta stagnasi hingga penurunan kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan.
“Era satu narasi dapat mengangkat seluruh pasar altcoin sudah berakhir,” jelas Ju, dikutip dari BeInCrypto, Rabu (18/2/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: