Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        ReforMiner Nilai SHD Pertamina Sederhanakan Operasional Hilir

        ReforMiner Nilai SHD Pertamina Sederhanakan Operasional Hilir Kredit Foto: Antara/Ahmad Subaidi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pembentukan Subholding Downstream (SHD) Pertamina dinilai menyederhanakan proses bisnis hilir migas dan meningkatkan optimalisasi operasional, sehingga distribusi BBM dan LPG berpotensi lebih cepat serta mendukung ketahanan energi nasional. Integrasi yang menyatukan PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS) tersebut resmi berlaku sejak 1 Februari 2026.

        Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan penggabungan tiga entitas hilir ke dalam satu struktur membuat koordinasi operasional lebih sederhana dibandingkan sebelumnya.

        “Diharapkan memang optimalisasi operasional, karena integrasi akan membuat saling mendukung. Jadi, kalau satu rumah kan ibaratnya ketika ada pekerjaan, bisa dikerjakan bareng. Jadi lebih sederhana prosesnya,” kata Komaidi.

        Baca Juga: Pertamina Targetkan Produksi Biorefinery Cilacap Tembus 6.000 Barel per Hari

        Ia menjelaskan, penyederhanaan terutama terjadi pada proses pengadaan dan distribusi energi. Dalam struktur sebelumnya, komunikasi antaranak usaha harus melalui prosedur administratif formal seperti surat menyurat atau kontrak antarlembaga.

        Menurutnya, dengan model terintegrasi, kebutuhan minyak mentah maupun distribusi dapat dilakukan lebih cepat.

        “Misalkan PPN membutuhkan minyak dari Arab dan harus segera sampai dalam hitungan waktu tertentu. Maka, PPN tinggal memerintahkan atau berkomunikasi saja dengan kapal (PIS), karena satu atap. Jadi lebih sederhana,” ujarnya.

        Hal serupa berlaku pada pengendalian stok. Ketika muncul indikasi kelangkaan BBM di suatu daerah, subholding dapat langsung menentukan kilang pemasok dan pengangkutan kapal tanpa proses administrasi berlapis.

        “Jadi tidak perlu Patra mengontak KPI lebih dulu, lalu KPI beli dulu minyaknya. Dengan terintegrasi, mungkin teknisnya sama, tapi administrasinya jauh lebih sederhana,” jelas Komaidi.

        Ia menambahkan proses yang lebih ringkas memungkinkan pemenuhan kebutuhan BBM dan LPG masyarakat dilakukan lebih cepat, sekaligus memperkuat jaminan pasokan energi.

        “Jadi lebih cepat. Kalau dulu ibaratnya, oke, isi form dulu dan lain sebagainya. Nah, sekarang karena satu atap, tidak perlu isi form,” lanjutnya.

        Baca Juga: Pertamina Bidik 'Giant Discovery' di Jambi Merang

        Komaidi menilai integrasi juga berpotensi meningkatkan kesiapan operasional Pertamina menghadapi periode konsumsi tinggi, termasuk Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri 2026.

        “Dengan integrasi, harusnya lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Apalagi tahun-tahun sebelumnya Satgas Rafi Pertamina bisa dikatakan selalu berhasil dan konsumen selalu memberikan apresiasi terhadap layanannya,” kata dia.

        Pertamina menyatakan pembentukan SHD dilakukan setelah evaluasi mendalam dan benchmarking dengan perusahaan migas sejenis. Aksi korporasi tersebut bertujuan meningkatkan optimalisasi operasional hilir, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, serta meningkatkan daya saing perusahaan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: