Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Mineral Strategis Jadi Senjata Baru RI, Prabowo Minta BIM Amankan Antimon–Tantalum

        Mineral Strategis Jadi Senjata Baru RI, Prabowo Minta BIM Amankan Antimon–Tantalum Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai memetakan kekuatan baru di sektor mineral strategis. Melalui Badan Industri Mineral (BIM), pemerintah mengonfirmasi rencana pengembangan mineral Antimon (Sb), Tungsten (W), dan Tantalum (Ta) sebagai bagian dari upaya memperkuat industri pertahanan nasional.

        Langkah tersebut merupakan tindak lanjut mandat Peraturan Presiden Nomor 76 Tahun 2025 tentang percepatan riset dan peningkatan nilai tambah mineral strategis untuk penguatan ekonomi dan industri pertahanan.

        Kepala BIM Brian Yuliarto menegaskan bahwa pengembangan mineral strategis tersebut merupakan instruksi langsung dari Presiden guna mendukung kedaulatan bangsa.

        Baca Juga: BIM Ungkap 8 Wilayah RI Simpan Harta Karun Logam Tanah Jarang

        “Kami mendapatkan permintaan dan arahan dari Bapak Presiden untuk kemudian melakukan pengembangan juga di beberapa mineral lain yang memiliki dampak atau sangat penting perannya untuk industri pertahanan, yaitu antara lain Antimon, Tungsten, dan Tantalum,” ujar Brian dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026).

        Brian menjelaskan, mineral strategis termasuk Logam Tanah Jarang (LTJ) merupakan komponen krusial dalam teknologi militer modern. Berdasarkan data BIM, tingkat ketergantungan industri pertahanan terhadap mineral tersebut tergolong sangat tinggi.

        Pada pesawat tempur, sekitar 70% hingga 80% subsistem bergantung pada mineral strategis. Sementara pada sistem rudal dan radar udara, ketergantungannya bahkan melampaui 80%.

        Tingginya ketergantungan tersebut, menurut Brian, membuat pengelolaan mineral strategis di sejumlah negara berada langsung di bawah otoritas pertahanan. Ia mencontohkan Amerika Serikat, di mana pengelolaan mineral strategis berada dalam koordinasi Department of Defense. Hal inilah yang menjadi dasar pembentukan struktur Dewan Pengarah BIM yang melibatkan Menteri Pertahanan, Panglima TNI, hingga Kepala Badan Intelijen.

        Untuk merealisasikan target pengembangan, pemerintah telah menetapkan delapan blok prioritas eksplorasi sebagai sumber primer mineral strategis. Salah satu klaster utama berada di Bangka Belitung, yang meliputi Blok Toboali, Blok Keposang, Blok Mentikus, dan Blok Batu Besi. Wilayah tersebut mengandung campuran LTJ, Tungsten, Tantalum, dan Antimon.

        Baca Juga: BIM Gandeng Perminas Jalankan Pilot Proyek LTJ di Sulawesi Barat

        Selain Bangka Belitung, eksplorasi intensif juga dilakukan di Blok Melawi, Blok Boyan Hulu, Blok Mamuju, dan Blok Bombana. Presiden telah menginstruksikan agar penguasaan dan pengelolaan wilayah-wilayah strategis tersebut diprioritaskan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

        Sebagai instrumen pelaksana di lapangan, pemerintah melalui Danantara membentuk perusahaan bernama Perminas. Perusahaan ini dimiliki 99% oleh Danantara dan 1% oleh BP BUMN.

        Perminas akan memegang peran kunci dalam pembangunan industri pemurnian elemen mineral strategis di dalam negeri. Pemerintah menargetkan hilirisasi mineral tersebut mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan, dengan potensi pasar yang diproyeksikan mencapai US$7,42 miliar pada 2030.

        “Diharapkan kita bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia juga menjadi pemain yang strategis untuk industri ini,” pungkas Brian.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: