Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kepala BIM Ungkap Dunia Pelit Bagi Ilmu Olah Logam Tanah Jarang ke RI

        Kepala BIM Ungkap Dunia Pelit Bagi Ilmu Olah Logam Tanah Jarang ke RI Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto mengungkapkan sulitnya Indonesia menembus teknologi pengolahan Logam Tanah Jarang (LTJ). Upaya penjajakan kerja sama dengan sejumlah negara maju berakhir buntu karena mereka enggan membagikan teknologi pengolahan mineral strategis tersebut.

        Padahal, temuan terbaru BIM menunjukkan Indonesia memiliki potensi LTJ yang sangat besar. Terdapat delapan blok potensial kategori sumber primer yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

        “Beberapa negara kami jumpai untuk dilakukan pembicaraan. Bagaimana apakah mungkin mereka mengembangkan bersama Indonesia untuk downstreaming Logam Tanah Jarang ini. Hampir semua negara menutup, mereka hanya mau membeli bahan mentah,” kata Brian dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026).

        Baca Juga: BIM Ungkap 8 Wilayah RI Simpan Harta Karun Logam Tanah Jarang

        Brian menuturkan, LTJ saat ini menjadi salah satu komoditas paling strategis di dunia. Ia mencontohkan Amerika Serikat yang bahkan melakukan pergerakan militer ke Greenland untuk mengamankan cadangan LTJ yang masuk lima besar dunia.

        Situasi tersebut tidak terlepas dari dominasi Tiongkok dalam pengembangan dan penguasaan rantai pasok LTJ global, yang kemudian direspons Amerika Serikat melalui berbagai intervensi pasar. Di sisi lain, teknologi pemurnian LTJ memang memiliki tingkat kompleksitas yang sangat tinggi.

        “Perlu kami sampaikan bahwa secara teknologi, pemrosesan Logam Tanah Jarang menjadi mineral single yang bisa memiliki nilai komersial, itu sangat sulit. Hampir semua negara tidak melepas kepemilikan teknologinya,” sambung Brian.

        Ia menjelaskan, LTJ merupakan “nyawa” bagi teknologi masa depan. Kendaraan listrik membutuhkan sekitar 30–40 persen LTJ dalam subsistemnya, industri robotik 60–70 persen, dan energi terbarukan 50–60 persen. Namun, kebutuhan paling krusial terdapat di sektor pertahanan.

        “Misalnya pesawat tempur itu 70 sampai 80 persen subsistemnya harus disuplai dengan Logam Tanah Jarang. Missile dan radar udara itu lebih dari 80 persen, serta berbagai peralatan industri pertahanan lainnya juga sangat tergantung dari Logam Tanah Jarang ini,” tuturnya.

        Karena minimnya keterbukaan teknologi dari negara lain, BIM memutuskan bergerak mandiri dengan menggandeng perguruan tinggi dalam negeri. Berdasarkan data teknis BIM, delapan blok potensial tersebut mencakup Blok Toboali dan Keposang di Bangka Belitung, Blok Mentikus dan Batubesi di Bangka Belitung, Blok Melawi dan Boyan Hulu di Kalimantan Barat, serta Blok Mamuju di Sulawesi Barat dan Blok Bombana di Sulawesi Tenggara.

        Blok Toboali tercatat mengandung Tungsten sekitar 8.287 ppm, Rare Earth Elements (REE) 2.391 ppm, serta Tantalum di area sekitar 10.000 hektare. Blok Keposang memiliki kandungan REE sekitar 1.000 ppm di lahan 5.000 hektare. Blok Mentikus mengandung timah (Sn) 23.400 ppm dan Tungsten 9.000 ppm di area 200 hektare, sedangkan Blok Batubesi mencatat Sn 5.000 ppm dan Tungsten 2.500 ppm di lahan 500 hektare.

        Baca Juga: Mineral Strategis Jadi Senjata Baru RI, Prabowo Minta BIM Amankan Antimon–Tantalum

        Di Kalimantan Barat, Blok Melawi disebut memiliki potensi REE sekitar 81.720 ppm di area 54.000 hektare. Sementara Blok Boyan Hulu menjadi target utama Antimony dengan kadar sekitar 70–95 persen di area 8.492 hektare.

        Adapun di Sulawesi, Blok Mamuju mengandung REE sekitar 2.000 ppm di area 23.000 hektare. Blok Bombana memiliki kandungan REE 220 ppm dan Antimony sekitar 6.170 ppm di lahan seluas 64.000 hektare.

        “Delapan ini yang kami sedang lakukan penelitian secara intensif untuk kemudian kami akan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk memberikan rekomendasi sehingga pengelolaan IUP-nya dapat diberikan kepada Badan Usaha Milik Negara sebagaimana diminta oleh Bapak Presiden,” tegas Brian.

        Dengan kepemilikan sumber daya tersebut, BIM memproyeksikan Indonesia berpotensi menguasai 1–5 persen pangsa pasar rare earth global dengan nilai devisa mencapai US$7,42 miliar pada 2030. Sebagai langkah awal, proyek percontohan (pilot project) akan digarap di Mamuju, Sulawesi Barat.

        Proyek tersebut melibatkan Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) dan akademisi untuk menguji teknologi Ion Adsorption Clay (IAC) serta metode ekstraksi in-situ dan ex-situ.

        “Dalam waktu dekat akan segera kita lakukan, yaitu Pilot Teknologi Hilirisasi Rare Earth yang ada di Mamuju,” ujar Brian.

        Ke depan, bijih (ore) akan diolah menjadi Mixed Rare Earth Oxide (MREO). Brian menyebut potensi LTJ di Mamuju tergolong lengkap karena mengandung unsur light dan heavy rare earth.

        “(Logam tanah jarang di sana) ada light dan ada heavy. Jadi, ya, di sana ada yang banyak dicari, itu kan NDPR (Neodymium–Praseodymium), TBDY (Terbium–Dysprosium), begitu,” katanya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: