Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Studi Ungkap 36% Rumah Tangga Rasakan Penurunan Pengeluaran karena MBG

        Studi Ungkap 36% Rumah Tangga Rasakan Penurunan Pengeluaran karena MBG Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) merilis temuan awal studi mengenai dampak Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terhadap rumah tangga dan anak penerima manfaat. Studi ini menunjukkan MBG mulai menekan pengeluaran harian keluarga, meski dampaknya belum mengubah struktur ekonomi rumah tangga secara signifikan.

        Studi yang melibatkan sekitar 1.800 orang tua tersebut mencatat sebanyak 36% rumah tangga melaporkan penurunan pengeluaran harian sejak MBG berjalan, terutama pada pos bekal makan dan uang saku anak. Namun, sekitar 63% responden menyebut penghematan yang diperoleh masih berada di bawah 10% dari total pengeluaran bulanan.

        Temuan ini menunjukkan MBG berfungsi sebagai bantalan (shock absorber) konsumsi skala kecil, membantu menjaga stabilitas pengeluaran rutin keluarga, tetapi belum menjadi instrumen peningkatan daya beli yang luas.

        Peneliti RISED M. Fajar Rakhmadi menyampaikan dukungan terhadap program tergolong kuat, khususnya dari kelompok rentan. “Sebanyak 81% orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. Dukungan ini tidak semata karena penghematan uang, tetapi karena rasa aman bahwa anak mendapat akses makanan bergizi di sekolah,” ujarnya.

        Dari sisi implementasi, 84% responden menyebut MBG diterima secara konsisten setiap hari sekolah. Namun, 69% orang tua menyatakan anak mereka baru menerima program kurang dari enam bulan, sehingga dampak jangka panjangnya belum dapat diukur secara memadai.

        Perubahan paling nyata terlihat pada kebiasaan makan anak. Sebanyak 72% orang tua melaporkan anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, sementara 55% menyebut anak lebih terbuka terhadap variasi jenis makanan. Meski demikian, RISED menegaskan bahwa dampak terhadap status gizi objektif, kesehatan umum, maupun capaian pendidikan belum dapat disimpulkan pada tahap awal implementasi.

        Berdasarkan temuan tersebut, RISED menilai kejelasan posisi MBG dalam kerangka kebijakan menjadi penting. Program ini berada di persimpangan antara kebijakan sosial, intervensi gizi, dan instrumen pembangunan sumber daya manusia (SDM). Tanpa kejelasan tersebut, indikator keberhasilan dan desain evaluasi berpotensi tidak konsisten.

        Selain itu, RISED menyoroti pentingnya menjaga konsistensi kualitas menu, variasi gizi, serta ketepatan waktu distribusi agar manfaat program tidak melemah. Evaluasi longitudinal dinilai krusial untuk mengukur kontribusi MBG terhadap pembangunan SDM dalam jangka menengah dan panjang.

        Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menilai MBG berpotensi mengurangi tekanan pengeluaran harian rumah tangga kelas menengah rentan. “Kalau satu keluarga memiliki dua anak dengan uang bekal Rp15.000 per hari selama 20 hari sekolah, itu berarti membantu mengurangi beban sekitar Rp600.000,” ujarnya.

        Ia menambahkan, apabila program dijalankan secara konsisten, dampaknya berpotensi lebih besar terhadap struktur ekonomi rumah tangga. Pengurangan biaya konsumsi anak dinilai dapat menciptakan consumer surplus yang memberi ruang bagi rumah tangga untuk mengalokasikan anggaran ke sektor produktif seperti pendidikan dan kesehatan.

        RISED menegaskan studi ini diposisikan sebagai baseline awal untuk memperkuat kebijakan berbasis data. “Temuan awal ini menjadi dasar penyempurnaan desain dan peningkatan kualitas implementasi MBG. Evaluasi lanjutan dengan periode lebih panjang sangat penting agar dampaknya terhadap pembangunan SDM dapat diukur secara komprehensif,” kata Fajar.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: