Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Komdigi Kejar 5G hingga Pelosok pada 2029, Demi Sambut Ledakan Ekonomi Berbasis AI

Komdigi Kejar 5G hingga Pelosok pada 2029, Demi Sambut Ledakan Ekonomi Berbasis AI Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mempercepat pembangunan jaringan 5G untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Pemerintah menargetkan cakupan layanan 5G terus meluas hingga mendekati cakupan nasional pada 2029.

Sekretaris Jenderal Komdigi, Ismail, mengatakan percepatan pembangunan 5G diperlukan agar infrastruktur telekomunikasi mampu mengimbangi perkembangan AI dan ekonomi digital.

"Roadmap 5G harus kita percepat. Kita berharap pada 2029 cakupan 5G di Indonesia terus berkembang sampai ke pelosok-pelosok tanah air. Ini penting karena dunia sedang bergerak menuju ekonomi berbasis AI, sehingga infrastruktur digital harus mampu mengimbangi kebutuhan tersebut," ujar Ismail di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Menurut Ismail, konektivitas kini tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, melainkan fondasi untuk meningkatkan produktivitas, mendorong inovasi, dan memperkuat daya saing nasional.

Ia menyebut Indonesia telah memiliki modal awal berupa jaringan serat optik nasional sepanjang lebih dari 1 juta kilometer, termasuk jaringan kabel bawah laut yang menghubungkan berbagai wilayah kepulauan.

Meski demikian, pembangunan infrastruktur digital ke depan tidak hanya difokuskan pada perluasan jangkauan jaringan, tetapi juga peningkatan kapasitas, kualitas, dan ketahanan jaringan agar mampu mendukung layanan digital generasi baru.

"Tantangan kita bukan lagi sekadar memperluas jaringan dasar. Yang kita bangun sekarang adalah infrastruktur yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital berbasis AI," katanya.

Operator Didorong Bertransformasi

Ismail menilai perkembangan AI telah mengubah kebutuhan industri telekomunikasi. Operator tidak lagi cukup hanya menyediakan kapasitas bandwidth, tetapi juga harus membangun infrastruktur yang mampu mendukung layanan berbasis AI, cloud computing, komputasi berkinerja tinggi (high performance computing/HPC), Internet of Things (IoT), hingga berbagai aplikasi digital yang meningkatkan produktivitas masyarakat dan dunia usaha.

"Dulu operator menjual bandwidth. Sekarang infrastruktur harus mampu mendukung layanan AI cloud dan berbagai aplikasi produktif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan industri," ujarnya.

Untuk mempercepat pembangunan jaringan 5G, pemerintah juga berupaya menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif melalui penyediaan spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz dengan biaya yang lebih terjangkau.

"Kami baru saja merilis spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding sebelumnya. Pemerintah harus hadir memberikan ruang agar investasi infrastruktur digital dapat tumbuh lebih cepat," tutur Ismail.

Selain penyediaan spektrum, Komdigi juga menyiapkan regulasi yang memberikan kepastian bagi investasi jangka panjang agar operator memiliki ruang memperluas jaringan sekaligus mengembangkan layanan digital baru.

Baca Juga: Konten AI Manipulatif Meningkat, Komdigi Perkuat Literasi Digital Generasi Muda

Baca Juga: Komdigi Buka Uji Publik Aturan Baru BAKTI, Masyarakat Diajak Beri Masukan

Baca Juga: Benarkah Berita Demonstrasi Sengaja Ditenggelamkan di Media Nasional? Begini Jawaban Menkomdigi

Pemerintah juga mendorong operator telekomunikasi mengubah model bisnis agar tidak hanya berfokus pada penyediaan konektivitas, tetapi juga menghadirkan solusi digital bagi berbagai sektor, seperti pertanian, pertambangan, manufaktur, kesehatan, pendidikan, dan jasa keuangan.

"Kita ingin operator tidak hanya menyediakan jaringan, tetapi juga menghadirkan solusi yang menciptakan nilai tambah bagi berbagai sektor ekonomi," kata Ismail.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga mengembangkan pendekatan konektivitas yang mengombinasikan jaringan terestrial dan satelit melalui non-terrestrial network (NTN).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri