Tiyo Ardiyanto Sindir Ketua-Ketua BEM Lapar dan Haus Kuasa, yang Dilakukannya Hanya Menunggu Giliran Berkuasa
Kredit Foto: Ist
Mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardiyanto, menuliskan refleksi tentang sosok Akmal yang disebutnya sebagai simbol keteguhan dan keberanian yang berlandaskan nilai kemanusiaan.
Dalam unggahannya, Tiyo menyebut Akmal merupakan salah satu korban kriminalisasi pascaaksi May Day di Semarang pada 2025. Akmal bersama sejumlah rekannya sempat ditahan terkait demonstrasi tersebut.
Tiyo mengaku pernah menyuarakan tagar #BebaskanKawanKami dalam rapat Komisi III DPR RI pada Juni 2025 sebagai bentuk dukungan terhadap Akmal dan rekan-rekannya.
"Kalau teman-teman ingat, saya pernah teriak-teriak #BebaskanKawanKami pada Juni 2025 dalam rapat Komisi III DPR RI. Itu terjadi karena Akmal dan kawan-kawan," tulis Tiyo.
Menurutnya, keberanian Akmal dan rekan-rekannya menjadi inspirasi yang mendorong dirinya untuk berani bersuara. Tiyo menggambarkan keberanian sebagai sesuatu yang lahir dari rasa takut terhadap hal lain yang lebih besar.
Dalam perjalanannya ke Pontianak, Tiyo mengaku kembali bertemu dengan Akmal dan melihat semangat sahabatnya itu untuk terus berkontribusi bagi masyarakat, meskipun pernah mengalami kekerasan dan kehilangan hak-haknya.
Tiyo menilai Akmal tetap mencintai Indonesia dan memilih mengabdikan ilmu geografi yang dipelajarinya di Universitas Negeri Semarang untuk membantu masyarakat di Kalimantan Barat, khususnya dalam penanganan dan pengelolaan kawasan hutan yang rawan kebakaran.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah terpukau oleh kecerdasan, popularitas, kekayaan, maupun jabatan. Menurut Tiyo, hal yang paling penting adalah keberpihakan kepada masyarakat, ketulusan, kerendahan hati, dan kesetiaan terhadap prinsip.
"Saya tidak silau pada jabatan-jabatan mentereng yang melekat pada tubuh manusia, mulai ketua BEM sampai presiden," tulisnya.
"Akmal jelas lebih terhormat dari ketua-ketua BEM yang sejak menjabat sudah lapar dan haus pada kekuasaan sehingga seluruh yang dilakukannya hanya bentuk menunggu giliran berkuasa," tulis Tiyo.
Tiyo menambahkan, sosok seperti Akmal menunjukkan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh jabatan atau kekuasaan, melainkan oleh integritas dan keberanian dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Di akhir tulisannya, Tiyo menyebut Indonesia membutuhkan lebih banyak figur yang memiliki keberanian, keteguhan, dan cinta terhadap bangsa yang mampu melampaui berbagai luka dan pengalaman pahit.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: