Indonesia-Malaysia Disebut Bakal Jadi Pemain Besar Rantai Pasokan Mobil Listrik di Asia Pasifik
Kredit Foto: Istimewa
Kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan semakin mendominasi industri manufaktur baterai global dan diperkirakan nilai proyek pembangunan pabrik baterai di kawasan ini diperkirakan mencapai US$45,4 miliar pada 2027.
Hal ini didorong meningkatnya permintaan kendaraan listrik (EV) dan kebutuhan sistem penyimpanan energi skala besar.
Laporan terbaru “Global Battery Construction Projects (Q1 2026)” yang dirilis GlobalData menyebutkan, meski aktivitas konstruksi yang sedang berjalan mulai melambat, gelombang proyek baru dalam tahap perencanaan terus bertambah.
Kondisi ini dinilai menjadi sinyal kuat pertumbuhan jangka panjang sektor baterai di kawasan APAC.
Analis Konstruksi GlobalData, Kishore Chandra, menyatakan bahwa sepanjang 2026 hingga 2028, kawasan APAC akan menjadi lokasi lebih dari 206 proyek besar dengan total nilai investasi sekitar US$127,2 miliar. Proyek-proyek tersebut sebagian besar dipicu lonjakan permintaan kendaraan listrik serta sistem penyimpanan energi baterai untuk pusat data.
“Gelombang pengembangan ini mendorong APAC menjadi pusat manufaktur global,” ujar Chandra.
Dalam laporan tersebut, China disebut memimpin dengan kapasitas besar mulai dari ekstraksi bahan baku, produksi katoda dan anoda, hingga perakitan sel baterai. Sementara Korea Selatan dan Jepang memperkuat posisi di segmen kimia baterai berperforma tinggi serta teknologi pemrosesan canggih.
Di sisi lain, Indonesia dan Malaysia mulai tampil sebagai pemain penting dalam rantai pasok global berkat cadangan nikel dan kobalt yang melimpah, kebijakan pemerintah yang mendukung, serta investasi besar pada fasilitas pemrosesan domestik dan pabrik berkapasitas gigawatt-jam.
Pada 2026, belanja eksekusi proyek masih tergolong tinggi, yakni sekitar US$23,4 miliar. Sementara nilai proyek dalam tahap perencanaan mencapai US$14,5 miliar dan pra-perencanaan sekitar US$1,3 miliar.
Memasuki 2028, nilai proyek pada tahap perencanaan diperkirakan melonjak hingga lebih dari US$38 miliar, sementara belanja eksekusi turun di bawah US$1,3 miliar. Hal ini menandakan pergeseran dari fase konstruksi menuju tahap konseptual dan persiapan proyek baru.
Dengan pipeline proyek pabrik baterai yang besar pada periode 2029–2030, kapasitas produksi kawasan ini diperkirakan meningkat signifikan.
Chandra menambahkan, perkembangan kimia baterai generasi baru juga akan membawa perubahan besar dalam industri.
Teknologi baru tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan pada lithium, sekaligus menghadirkan performa lebih baik seperti pengisian daya lebih cepat, umur pakai lebih panjang, serta stabilitas termal yang lebih baik.
Seiring peningkatan skala produksi dan berkurangnya hambatan manufaktur, harga baterai diprediksi turun tajam. Kondisi ini diyakini akan membuat solusi penyimpanan energi semakin terjangkau dan memperluas adopsinya di berbagai sektor industri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: