Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        CPO Dikecualikan dari Tarif AS, Sentimen Saham Emiten Sawit Menguat

        CPO Dikecualikan dari Tarif AS, Sentimen Saham Emiten Sawit Menguat Kredit Foto: Sahril Ramadana
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai pengecualian tarif Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah komoditas unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), berpotensi memberikan sentimen positif bagi saham-saham sektor perkebunan.

        Menurutnya, pengecualian tarif tersebut menjaga daya saing produk CPO Indonesia di pasar AS sehingga risiko penurunan volume ekspor dapat ditekan.

        “Jika tarif AS ke Indonesia 19% tetapi sawit dikecualikan, maka dampaknya ke emiten sawit cenderung positif secara sentimen. Pengecualian itu menjaga daya saing CPO, sehingga risiko penurunan volume ekspor bisa ditekan,” kata Reydi kepada Warta Ekonomi, Rabu (18/2/2026).

        Pemerintah sebelumnya mengklaim Amerika Serikat telah menurunkan tarif resiprokal atas produk Indonesia dari 32% menjadi 19%, serta memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas unggulan ekspor Indonesia, termasuk CPO, kopi, dan kakao.

        Baca Juga: Hashim Sebut Ada 4 Juta Hektare Lahan Sawit Ilegal, POPSI Sebut Hanya 246 Ribu Hektare

        Reydi menilai emiten sawit akan diuntungkan dari sisi kepastian akses pasar. Kejelasan kebijakan tersebut memberi ruang bagi pelaku usaha untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah dinamika perdagangan global.

        Meski demikian, ia menegaskan kebijakan tersebut bukan katalis besar yang secara langsung mendorong lonjakan laba emiten sawit. Faktor fundamental industri tetap menjadi penentu utama kinerja keuangan.

        “Kinerja emiten sawit tetap lebih ditentukan oleh harga CPO global, kebijakan biodiesel, dan kurs rupiah,” ujarnya.

        Pandangan senada disampaikan Senior Market Analyst Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas. Ia menilai apabila kebijakan pengecualian tarif tersebut benar-benar terealisasi dalam kerangka kebijakan dagang AS, dampaknya akan konstruktif bagi industri sawit domestik.

        Secara psikologis, pasar dinilai akan merespons kebijakan tersebut dengan kenaikan harga saham berbasis sawit. Sejumlah emiten bahkan telah mencatatkan apresiasi harga saham dalam beberapa waktu terakhir.

        Saham-saham seperti PT Eagle High Plantations Tbk, PT Astra Agro Lestari Tbk, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk, PT Dharma Satya Nusantara Tbk, PT Triputra Agro Persada Tbk, serta PT Sumber Tani Agung Resources Tbk dinilai berpotensi memperoleh sentimen positif.

        “Kalau secara sentimen, saham-saham terkait seharusnya bisa mendapatkan katalis positif,” ujarnya saat dihubungi terpisah.

        Baca Juga: Andalkan Sawit, Bahlil Lahadalia 'Pede' Hentikan Impor Solar

        Dari sisi fundamental, kebijakan tersebut juga dinilai dapat berdampak pada kinerja top line maupun bottom line emiten sawit, terutama jika mendorong peningkatan volume ekspor dan memperkuat posisi tawar CPO Indonesia di pasar global.

        “Ini memberikan indikasi positif bahwa produk CPO di dalam negeri memiliki keunggulan dibandingkan minyak nabati lainnya,” pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Disclaimer: Keputusan untuk melakukan aksi jual atau beli saham sepenuhnya ada di tangan pembaca. Segala risiko kerugian dari setiap keputusan investasi yang diambil menjadi tanggung jawab pembaca.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: