Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Langkah Pramono Melarang Ormas Lakukan Sweeping Rumah Makan Selama Ramadan Didukung MUI

Langkah Pramono Melarang Ormas Lakukan Sweeping Rumah Makan Selama Ramadan Didukung MUI Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, setuju dengan langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang melarang ormas melakukan aksi sweeping rumah makan selama Ramadan.

Anwar berharap ada tindakan dari pemerintah yang memberi sosialisasi kepada masyarakat luas mengenai pentingnya sikap saling menghormati antarumat beragama.

"Saya rasa tidak perlu ada sweeping-sweepingan, karena pemerintah sebelum puasa kita harapkan sudah menyosialisasikan kepada rakyat dan masyarakat luas tentang perlunya ada sikap saling hormat menghormati agama dan kepercayaan serta ibadah dari agama lain,” kata Anwar.

Ia menegaskan, semangat toleransi dan saling menghargai harus menjadi landasan dalam menjaga suasana Ramadan tetap kondusif.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan komitmennya menjaga Jakarta tetap kondusif selama Ramadan.

Pramono menekankan, Ramadan harus menjadi momentum memperkuat persatuan antar warga. Karena itu, aktivitas seperti SOTR maupun sweeping rumah makan yang masih buka di siang hari dinilai berpotensi memicu gesekan sosial dan tidak akan diizinkan.

Baca Juga: Bulan Puasa di Jakarta, Pemprov DKI: Tidak Ada SOTR, Tidak Ada Lagi Sweeping Rumah Makan, Dilarang!

Ia menyebut menjaga ketertiban dan keamanan merupakan tanggung jawab aparat dan pemerintah daerah, bukan kelompok ormas tertentu.

Karena itu, ia meminta seluruh elemen masyarakat menghormati aturan yang berlaku dan tidak melakukan tindakan sepihak.

Menurutnya, Pemprov DKI Jakarta akan berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan instansi terkait untuk memastikan suasana Ramadan berlangsung aman, tertib, dan kondusif.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk mengedepankan sikap saling menghormati, terutama dalam menjalankan ibadah di bulan suci.

“Ramadan harus menjadi momentum memperkuat persaudaraan dan toleransi, bukan justru memicu gesekan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pramono menambahkan, bila ditemukan pelanggaran, penanganannya akan dilakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Ia berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan bersama-sama menjaga ketenangan selama Ramadan di Jakarta.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Bagikan Artikel: