Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Saham Emiten Sawit Tancap Gas, Terkerek Efek CPO Lolos Kebijakan Tarif Trump

        Saham Emiten Sawit Tancap Gas, Terkerek Efek CPO Lolos Kebijakan Tarif Trump Kredit Foto: Freepik
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sejumlah saham emiten sawit terpantau sumringah pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026. Kinerja saham sektor ini menguat seiring kabar pengecualian tarif Trump terhadap komoditas unggulan Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).

        Hingga sesi siang, sejumlah saham mencatat kenaikan signifikan. PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) melonjak 11,36% ke Rp147, diikuti PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) yang naik 8,49% ke Rp230. PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) menguat 4,74% ke Rp2.650, sementara PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) naik 2,38% ke Rp11.825 dan PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) menanjak 2,31% ke Rp177.

        Penguatan juga terlihat pada PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) yang naik 2,15% ke Rp1.190, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) menguat 1,75% ke Rp580, serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang terapresiasi 1,73% ke Rp1.470.

        PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) bertambah 1% ke Rp7.600, disusul PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) yang naik 0,43% ke Rp1.165 dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) yang menguat 0,36% ke Rp1.405.

        Adapun sebagian saham lainnya bergerak variatif. PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) turun -2,55% ke Rp7.650, disusul PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) yang melemah -1,18% ke Rp1.680 dan PT Pinago Utama Tbk (PNGO) turun -0,32% ke Rp3.110.

        Sementara itu, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) stagnan di Rp5.500, PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) bertahan di Rp660, dan PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) stabil di Rp1.000.

        Baca Juga: CPO Dikecualikan dari Tarif AS, Sentimen Saham Emiten Sawit Menguat

        Penguatan sejumlah saham CPO sejalan dengan penilaian Pengamat Pasar Modal Reydi Octa. Ia menyebut pengecualian tarif AS terhadap komoditas unggulan Indonesia berpotensi menjadi sentimen positif bagi emiten perkebunan.

        “Jika tarif AS ke Indonesia 19% tetapi sawit dikecualikan, maka dampaknya ke emiten sawit cenderung positif secara sentimen. Pengecualian itu menjaga daya saing CPO, sehingga risiko penurunan volume ekspor bisa ditekan,” kata Reydi kepada Warta Ekonomi, Rabu (18/2/2026).

        Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (19/2) dijadwalkan akan bertemu Presiden Donald Trump untuk menandatangani kesepakatan dagang, yaitu Agreement on Reciprocal Trade (ART). 

        Dalam kontrak dagang tersebut, Amerika Serikat sepakat menurunkan tarif resiprokal atas produk Indonesia dari 32% menjadi 19%. Tak hanya itu, sejumlah komoditas unggulan, termasuk minyak kelapa sawit (CPO), kopi, dan kakao mendapat pengecualian tarif. 

        Reydi menilai kebijakan tersebut memberikan kepastian akses pasar bagi emiten sawit, sehingga pelaku usaha memiliki ruang untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah dinamika perdagangan global.

        Baca Juga: RI Dapat Tarif 19% dari AS, Airlangga: Tinggal Tunggu Tanda Tangan

        Pandangan senada disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Ia menilai, jika kebijakan pengecualian tarif benar-benar terealisasi dalam kerangka dagang AS, dampaknya akan konstruktif bagi industri sawit domestik.

        Secara psikologis, pasar diperkirakan akan merespons kebijakan tersebut dengan kenaikan harga saham berbasis sawit. “Kalau secara sentimen, saham-saham terkait seharusnya bisa mendapatkan katalis positif,” ujarnya saat dihubungi terpisah.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: