Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Bazar Semarak Ramadhan 1447 H resmi dibuka Senin, 9 Maret, di lingkungan Kantor Kementerian ESDM, Jakarta. Kegiatan ini diinisiasi Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian ESDM sebagai wadah promosi sekaligus penjualan bagi pelaku usaha kecil.
Bazar bertema "UMKM Tangguh Energi Tumbuh" ini menghadirkan beragam produk dari pelaku usaha, mulai dari kuliner khas Ramadan, kue kering Lebaran, busana Muslim, kerajinan tangan, hingga kebutuhan rumah tangga.
Tema tersebut mencerminkan semangat memperkuat ketahanan sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM di tengah tantangan ekonomi.
Ketua Panitia Vinay Erani Yustika menyebut bazar ini sebagai bentuk konkret dukungan terhadap pengembangan dan pemberdayaan UMKM.
Selain membuka pasar bagi pelaku usaha, kegiatan ini juga memudahkan pegawai dan masyarakat sekitar mendapatkan produk UMKM dalam momen Ramadan menjelang Idul Fitri.
Penasehat DWP Kementerian ESDM Sri Suparni Bahlil menyatakan bazar ini terwujud berkat kolaborasi berbagai pihak di lingkungan kementerian bersama sejumlah instansi terkait. Ia berharap kegiatan ini memberi dampak positif sekaligus membuka ruang bagi UMKM untuk menjangkau lebih banyak konsumen.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia turut hadir membuka bazar dan menyampaikan apresiasinya atas inisiatif DWP.
"Saya mengapresiasi dan menyambut baik program dari DWP Kementerian ESDM ini untuk berbagi kasih secara ekonomi. UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional," ujarnya dikutip dari ANTARA.
Bahlil kemudian memaparkan data kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional secara lebih rinci. Sektor ini tidak hanya menyumbang besar terhadap produk domestik bruto, tetapi juga menjadi penopang utama lapangan kerja di Indonesia.
"Kontribusi UMKM terhadap Gross Domestic Product (GDP) itu 60 persen. Lapangan pekerjaan kita dari 132 juta, 120 jutanya itu UMKM. Dari total jumlah pengusaha, 97 sampai 98 persen itu UMKM, jumlahnya 64 sampai 65 juta," ucapnya.
Angka tersebut menempatkan UMKM sebagai sektor dengan jumlah pelaku usaha terbesar di Indonesia.
Bahlil juga mengingatkan peran UMKM saat Indonesia dilanda krisis ekonomi lebih dari dua dekade lalu. Sektor ini menjadi tumpuan ketika indikator makroekonomi nasional berada di titik kritis.
"Waktu Indonesia krisis ekonomi tahun 1998–1999, inflasi kita mencapai 83 persen, defisit ekonomi kita 13 persen, cadangan devisa tinggal 17 miliar dolar AS dan yang menjadi tulang punggung mempertahankan ekonomi nasional kita ya UMKM," ungkapnya.
Baca Juga: Naik 10 Kali Lipat dalam Setahun, Festival Jejak Jajanan Nusantara Jadi Bukti Kekuatan UMKM
Nilai cadangan devisa saat itu setara sekitar Rp277,1 triliun berdasarkan kurs saat ini.
Melalui bazar ini, DWP Kementerian ESDM berharap pelaku UMKM makin percaya diri memperluas pasar dan memperkenalkan produk mereka kepada lebih banyak konsumen. Kegiatan serupa diharapkan terus berlanjut sebagai ruang nyata bagi pertumbuhan usaha kecil di Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: