Suku Bunga Kredit Baru Turun 40 basis poin, BI Minta Perbankan Lebih Agresif
Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Bank Indonesia (BI) meminta perbankan lebih agresif menurunkan suku bunga kredit untuk mendorong pertumbuhan kredit dan menopang ekspansi ekonomi. Hingga Januari 2026, suku bunga kredit tercatat turun 40 basis poin (bps) dari 9,20% pada awal 2025 menjadi 8,80%.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan ruang penurunan suku bunga kredit masih terbuka seiring pelonggaran kebijakan moneter yang telah dilakukan bank sentral.
“Ke depan, upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Baca Juga: BI Sebut Rupiah Sebenarnya Undervalued, Ini Penyebabnya
Berdasarkan data BI, pertumbuhan kredit perbankan pada Januari 2026 mencapai 9,96% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat tipis dibandingkan Desember 2025 sebesar 9,69% (yoy).
Perry menjelaskan BI telah menurunkan suku bunga kebijakan BI-Rate sebesar 150 bps sejak September 2024. Penurunan tersebut terdiri atas 25 bps pada September 2024 dan 125 bps sepanjang 2025. Hingga Januari 2026, BI-Rate bertahan di level 4,75%, terendah sejak 2022.
Baca Juga: BI Kucurkan Insentif KLM Rp427,5 triliun, Bank BUMN Dapat Jatah Terbesar
Untuk mempercepat transmisi pelonggaran moneter, BI memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sejak 16 Desember 2025. Melalui kebijakan ini, bank yang lebih responsif menurunkan suku bunga kredit baru akan memperoleh insentif likuiditas lebih besar.
“Dengan penguatan KLM, insentif yang lebih tinggi diberikan bagi bank yang lebih responsif dalam menurunkan suku bunga kredit baru sejalan dengan arah penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia,” ujarnya.
Pada minggu pertama Februari 2026, insentif KLM yang diterima perbankan mencapai Rp427,5 triliun. Rinciannya, Rp357,9 triliun disalurkan melalui lending channel dan Rp69,6 triliun melalui interest rate channel.
Berdasarkan kelompok bank, insentif KLM disalurkan kepada bank BUMN sebesar Rp207,1 triliun, bank umum swasta nasional (BUSN) Rp184,8 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) Rp28,5 triliun, dan kantor cabang bank asing (KCBA) Rp7,1 triliun.
Di sisi dana, suku bunga deposito satu bulan tercatat turun 68 bps dari 4,81% pada Januari 2025 menjadi 4,13% pada Januari 2026. Namun, BI menilai penurunan tersebut masih perlu diikuti transmisi lebih lanjut ke suku bunga kredit.
Baca Juga: BI Siapkan Uang Tunai Rp185,6 Triliun untuk Kebutuhan Lebaran
Perry juga menyoroti praktik pemberian special rate kepada deposan besar yang masih mencapai 26,42% dari total dana pihak ketiga (DPK). Menurutnya, pengurangan porsi special rate perlu terus dilanjutkan agar penurunan suku bunga dana dapat diteruskan ke kredit.
“Penurunan suku bunga dana tersebut juga perlu makin ditransmisikan ke penurunan suku bunga kredit perbankan,” tuturnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: