Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bulog Lipat Gandakan Stok Minyakita Jadi 70.000 Kiloliter Jelang Lebaran 2026

        Bulog Lipat Gandakan Stok Minyakita Jadi 70.000 Kiloliter Jelang Lebaran 2026 Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perum Bulog memutuskan untuk memperbanyak stok Minyakita hingga mencapai 70.000 kiloliter guna menghadapi momen lebaran Idulfitri 2026. Penambahan persediaan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kenaikan konsumsi masyarakat yang biasanya melonjak tajam saat hari raya.

        Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa stok ditingkatkan dari persediaan rutin yang biasanya hanya sekitar 30.000 kiloliter setiap bulan. Peningkatan signifikan ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan barang di pasar agar tidak terjadi kelangkaan selama masa Ramadan.

        “Direncanakan khusus menjelang lebaran ini, kami stokkan sampai 70.000 kiloliter. Tujuannya apa? Untuk mengantisipasi masyarakat yang akan menghadapi Ramadan dan khususnya lebaran di tahun 2026,” kata Rizal usai melakukan sidak di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur.

        Bulog bekerja sama dengan BUMN pangan lainnya seperti ID Food dan Agrinas Palma dalam mendistribusikan minyak goreng hasil pemenuhan kebutuhan domestik (DMO). Skema penyaluran ini merujuk pada Peraturan Menteri Perdagangan No. 43/2025 yang mewajibkan pasokan untuk pasar rakyat sebesar 35%.

        Melalui sistem tersebut, Bulog dapat menyalurkan produk secara langsung ke pedagang pasar rakyat agar harga jual tetap terkendali. Target utama dari pengawasan ini adalah memastikan masyarakat dapat membeli Minyakita sesuai harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter.

        Baca Juga: Gudang Bulog Penuh Sesak, Amran Minta Tambahan Anggaran ke Purbaya

        Terkait keluhan sebagian pedagang mengenai keterbatasan stok saat ini, Rizal menegaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari pengaturan distribusi produk subsidi. Skema pembagian jatah antar toko dilakukan guna menghindari adanya praktik borong yang dapat merugikan pedagang lainnya.

        “Jadi kalau mungkin yang tadi dibilang kesulitan, dia maunya ngambil banyak, nanti takutnya teman-teman yang lain enggak kebagian. Jadi harus dibagi rata ke masing-masing toko,” pungkas purnawirawan TNI itu.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: