Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Revitalisasi Satuan Pendidikan Tingkatkan Kualitas Pembelajaran di Daerah 3T

        Revitalisasi Satuan Pendidikan Tingkatkan Kualitas Pembelajaran di Daerah 3T Kredit Foto: Kemendikdasmen
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menghadirkan peningkatan kualitas pembelajaran di berbagai daerah Indonesia, termasuk di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

        Selain mewujudkan perbaikan fisik bangunan sekolah, program ini juga memperkuat lingkungan belajar yang lebih aman dan menjadi bukti nyata upaya perwujudan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua.

        Sejumlah capaian hasil revitalisasi dari kepala satuan pendidikan daerah 3T menjadi bukti munculnya dampak positif. Mulai dari meningkatnya semangat belajar, kualitas proses pembelajaran lebih baik, tumbuhnya rasa percaya diri sekolah dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu, serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.

        Salah satu testimoni tersebut diungkapkan oleh Kepala TK Pembina Negeri Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, Albertina Insyur. Ia mengungkapkan, pada tahun 2025 TK Pembina Negeri Senggi memperoleh empat menu bantuan revitalisasi, yaitu rehabilitasi tiga ruang kelas baru (RKB), pembangunan toilet, pembangunan ruang kelas, dan pembangunan ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). 

        “Kami sangat bersyukur dengan revitalisasi ini. Sebagai sekolah yang berada di tapal batas Indonesia-Papua Nugini, bertahun-tahun sekolah kami belum tersentuh pembangunan. Terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Kemendikdasmen yang telah memberikan perhatian kepada kami. Semua murid sangat bahagia karena kini memiliki fasilitas baru dan lingkungan belajar yang jauh lebih nyaman,” ucap Albertina, dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen, Minggu (22/2).

        Dengan skema pembangunan yang swakelola, Albertina menuturkan bahwa revitalisasi juga memberikan dampak yang sangat positif kepada masyarakat sekitar sekolah. Melalui mekanisme ini, warga dapat berpartisipasi langsung dalam proses pembangunan sekolah, sehingga tercipta rasa memiliki dan kebersamaan yang kuat. Lebih lanjut, aktivitas pembangunan juga menggerakkan perekonomian lokal, mulai dari toko hingga kios kecil turut merasakan dampak dari program revitalisasi. 

        “Kami berharap program revitalisasi ini dapat terus dilanjutkan. Program ini sangat bagus karena mampu membuat murid kami menjadi lebih giat belajar, sehingga kelak mereka akan tumbuh menjadi generasi emas Indonesia tahun 2045,” tuturnya.

        Selajutnya, dampak positif revitalisasi juga dirasakan oleh Kepala SMP Islam Darul Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Ihsan Sopiandi. Pada revitalisasi tahun 2025 sekolahnya mendapatkan enam menu pembangunan, yaitu pembangunan empat RKB, pembangunan Laboratorium IPA, pembangunan ruang administrasi, pembangunan ruang UKS, pembangunan ruang perpustakaan, dan pembangunan toilet. Seluruh pembangunan tersebut telah rampung pada akhir tahun 2025 dengan total nilai anggaran lebih dari Rp2,9 miliar. 

         Baca Juga: Catatan Kesepakatan Dagang 'Agreement on Reciprocal Tariff' Indonesia dan US

        “Program revitalisasi yang kami dapatkan membawa perubahan yang sangat nyata bagi sekolah kami. Ruang belajar sekolah kini menjadi lebih representatif dan layak karena sebelumnya kami belum memiliki ruang belajar yang memadai. Sekarang seluruh murid sekolah kami dapat belajar dengan nyaman di ruang kelas hasil revitalisasi,” ungkap Ihsan. 

        Ihsan menambahkan, dampak revitalisasi juga turut meningkatkan citra dan kepercayaan masyarakat terhadap sekolahnya. Dahulu, keterbatasan ruang belajar dan fasilitas pendukung membuat sekolahnya kurang mendapat perhatian dan kepercayaan masyarakat. Berkat program revitalisasi, ia menyebut bahwa kini kepercayaan masyarakat mulai tumbuh dan semakin banyak orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di SMP Islam Darul Bayan.

        “Tidak hanya dari sisi fasilitas, kami merasa revitalisasi membuat manajemen sekolah menjadi lebih tertata dan profesional. Dengan adanya ruang kantor, berkas-berkas dapat tersimpan rapi, dan pelayanan untuk mendukung proses pembelajaran menjadi jauh lebih mudah dan efektif.” ujar Ihsan.

        Terakhir, testimoni akan dampak positif revitalisasi diungkapkan oleh Kepala SD Negeri 1 Loloan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Sahrir. Ia sangat bersyukur program revitalisasi mengubah fisik bangunan di sekolahnya, yaitu pembangunan ruang administrasi, ruang kelas baru, toilet, ruang UKS, serta rehabilitasi ruang perpustakaan.

        Dalam proses pembangunan, Sahrir menjelaskan bahwa masyarakat terlibat aktif dan memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap sekolah. Mulai dari Ketua Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP) hingga pelaksana pembangunan berasal dari unsur masyarakat dan komite sekolah, semuanya bersinergi dengan baik. Revitalisasi turut mendongkrak perekonomian sekitar. Material bangunan dibeli dari lingkungan sekitar. 

        “Dampak revitalisasi di sekolah kami sangat signifikan, terutama dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman. Kini peserta didik tidak lagi belajar di lantai ruang perpustakaan karena keterbatasan ruang kelas, dan guru dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan lebih optimal karena sarana belajar telah terpenuhi, termasuk ketersediaan meja dan bangku yang memadai,” terang Sahrir.

        Ketiga kisah di atas menjadi bukti komitmen nyata pemerintah dalam memenuhi sarana dan prasarana pendidikan secara inklusif termasuk di daerah 3T telah menuai dampak positif. Sebagai salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menggarisbawahi bahwa program Revitalisasi Satuan Pendidikan tidak hanya sekadar berfokus untuk memperbaiki gedung yang rusak, namun juga untuk menciptakan lingkungan belajar aman, nyaman, dan mendukung transformasi karakter siswa.

        Ia juga menyampaikan, “Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, tahun 2026 kami menargetkan penambahan 60 ribu satuan pendidikan penerima revitalisasi, sehingga transformasi dan mutu pendidikan dapat dirasakan di seluruh penjuru negeri,” tutup Menteri Mu’ti.

        Sebagai informasi, tahun 2025 jumlah revitalisasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah berjumlah 14.072 satuan pendidikan. Dengan rincian 1.515 PAUD, 6.328 SD, 3.989 SMP, dan 2.240 SMA. Khusus untuk daerah 3T, revitalisasi menjangkau 76 PAUD, 419 SD, 325 SMP, dan 129 SMA.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: