Kredit Foto: Antara/Irwansyah Putra
Kebutuhan belanja saat Lebaran mendorong lonjakan penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) dan pinjaman daring (pindar). Di tengah pengeluaran yang meningkat, pindar kerap menjadi solusi praktis untuk menutup kekurangan dana jangka pendek.
Menanggapi tren tersebut, CEO dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, secara tegas tidak menyarankan penggunaan paylater untuk kebutuhan konsumsi harian. Menurutnya, pinjaman harus dilakukan atas dasar kebutuhan, bukan keinginan.
“Saya tidak menyarankan untuk menggunakan paylater untuk kebutuhan konsumsi harian,” katanya kepada Warta Ekonomi, Selasa (24/2/2026).
Baca Juga: Utang Masyarakat di Pay Later Tembus Rp11,94 Triliun Naik 75%
Ia menekankan, masyarakat sebaiknya mencari alternatif lain sebelum memutuskan berutang serta memastikan memiliki kemampuan dan rencana pengembalian yang jelas.
“Usahakan pinjam untuk kebutuhan, bukan keinginan. Usahakan ada cara lain selain pinjaman. Pastikan tahu cara mengembalikan pinjaman,” ujarnya.
Jika terpaksa meminjam, Melvin mengingatkan agar hanya menggunakan layanan yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, menurutnya, akan jauh lebih aman jika porsi belanja Lebaran disesuaikan dengan kapasitas keuangan agar tidak perlu berutang demi memenuhi keinginan.
“Belanja boleh, namun sewajarnya dan sesuai dengan kapasitas. Saya tidak menyarankan untuk meminjam guna membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan,” tuturnya.
Senada dengan itu, financial planner bersertifikasi CFP dari Finansialku, Shierly, mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati jika membutuhkan pinjaman menjelang hari raya. Ia menegaskan pentingnya hanya menggunakan layanan yang terdaftar dan diawasi OJK.
“Iya, sebaiknya gunakan yang terdaftar dan diawasi OJK. Risiko penyalahgunaan data pribadi, bunga dan biaya yang tinggi dan tidak jelas, serta sistem penagihan yang melanggar prosedur keamanan dan etika moral, misalnya ancaman,” ujarnya.
Baca Juga: Utang Pay Later Masyarakat di Perbankan Capai Rp26,4 Triliun, Rekening Tembus 31,21 Juta
Sebelum berutang, Shierly menyarankan masyarakat melakukan langkah mitigasi dengan bersikap kritis terhadap kebutuhan yang ingin dipenuhi serta menyusun skala prioritas secara matang.
“Bersikap kritis pada diri sendiri, apakah itu kebutuhan atau keinginan. Kalau tidak dipenuhi, apa konsekuensinya, serta bandingkan manfaat dan biayanya,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya perencanaan pembayaran sebelum memutuskan meminjam.
“Harus direncanakan nanti lunasi tanggal berapa, bayar berapa, pakai uang dari mana, apakah uang bulan depan masih cukup untuk hidup, apakah bisa bayar tepat waktu, dan apakah memungkinkan pelunasan dipercepat,” tuturnya.
Selain itu, Shierly mengingatkan batas aman rasio cicilan agar kondisi keuangan tetap sehat.
“Hitung rasio cicilan, yaitu jumlah cicilan bulanan dibandingkan penghasilan bulanan, jangan sampai melebihi 35%. Sedangkan untuk rasio cicilan konsumtif, sebaiknya tidak lebih dari 15%,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: