Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BPS Kaji Dampak Perdagangan RI jika Jalur Selat Hormuz Terganggu

        BPS Kaji Dampak Perdagangan RI jika Jalur Selat Hormuz Terganggu Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Badan Pusat Statistik (BPS) tengah mengkaji potensi dampak terhadap perdagangan Indonesia apabila jalur pelayaran strategis Selat Hormuz mengalami gangguan. Jalur ini diketahui menjadi lintasan penting perdagangan global, termasuk arus barang Indonesia dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah.

        "Yang mungkin terganggu ini tentunya perlu dilakukan kajian yang lebih lanjut," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/3/2026).

        Sebagai gambaran, Ateng memaparkan data perdagangan non-migas Indonesia dengan tiga negara yang berada di jalur tersebut sepanjang 2025, yakni Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab.

        Nilai impor non-migas Indonesia dari Iran tercatat sebesar US$8,4 juta, didominasi buah-buahan senilai US$5,9 juta, diikuti besi dan baja US$0,8 juta serta mesin dan peralatan mekanis US$0,7 juta.

        Sementara dari Oman, impor RI mencapai US$718,8 juta, terutama besi dan baja sebesar US$590,5 juta, bahan kimia organik US$56,7 juta, serta garam, belerang, batu, dan semen US$44,2 juta.

        "BPS mencatat Indonesia juga mengimpor perhiasan dari negara lain seperti Australia, meski nilainya lebih besar dibandingkan dari UEA," kata Ateng.

        Selanjutnya untuk impor dari Uni Emirat Arab mencapai US$1,4 miliar. Komoditas utamanya adalah logam mulia dan perhiasan senilai US$511,1 juta, kemudian aluminium dan barang turunannya US$181,6 juta, serta garam, belerang, batu, dan semen US$43,2 juta.

        Di sisi ekspor non-migas, Indonesia mengekspor ke Iran sebesar US$249,1 juta, terutama buah-buahan US&86,4 juta , kendaraan dan bagiannya US$34,1 juta, serta lemak dan minyak hewan atau nabati US$22 juta.

        Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Biaya Logistik Nasional Bisa hingga 12%

        Baca Juga: AS Keluarkan Peringatan, Iran Tak Akan Segan Membajak Kapal Tanker di Selat Hormuz

        Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Dipicu Insiden di Selat Hormuz

        Ekspor ke Oman tercatat US$428,8 juta dengan komoditas utama lemak dan minyak hewan atau nabati sebesar US$227,7 juta, kendaraan dan bagiannya US$64,2 juta, serta bahan mineral US$48,1 juta.

        Adapun ekspor non-migas Indonesia ke Uni Emirat Arab mencapai sekitar US$4,0 miliar terdiri dari logam mulia dan perhiasan US$183,6 juta, lemak dan minyak hewan atau nabati US$510,3 juta, serta kendaraan dan bagiannya US$363,5 juta.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: