Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bos Goldman Sachs: Pasar Terlalu Tenang Hadapi Konflik Iran dan Amerika Serikat (AS)

        Bos Goldman Sachs: Pasar Terlalu Tenang Hadapi Konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) Kredit Foto: Google Earth
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Chief Executive Officer (CEO) Goldman Sachs, David Solomon mengatakan dirinya terkejut dengan reaksi pasar keuangan global yang dinilai relatif jinak menyusul perang dari Israel-Amerika Serikat dan Iran.

        Menurut Solomon, besarnya dampak geopolitik dari perang yang melibatkan tiga negara tersebut seharusnya memicu gejolak yang lebih besar dalam pasar.

        Baca Juga: Digunakan Korea Utara dan Iran, Stablecoin Disebut Menjadi Alat Transaksi Ilegal

        “Saya melihat reaksi pasar, dan saya justru terkejut bahwa reaksinya lebih jinak dari yang mungkin dibayangkan mengingat besarnya peristiwa ini,” ujar Solomon, dikutip dari Reuters.

        Solomon menilai pasar biasanya hanya bereaksi tajam terhadap peristiwa geopolitik jika memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi global.

        Ia menambahkan bahwa efek kumulatif dari berbagai peristiwa yang terjadi saat ini belum sepenuhnya tercermin di harga aset.

        “Ada efek kumulatif dari semua yang terjadi dan potensi reaksi yang jauh lebih keras. Sampai saat ini, kita belum melihat efek kumulatif tersebut,” katanya.

        Menurutnya, investor kemungkinan membutuhkan waktu satu hingga dua pekan untuk benar-benar mencerna dampak jangka pendek maupun menengah dari konflik yang sedang berlangsung.

        “Saya pikir perlu waktu beberapa minggu bagi pasar untuk benar-benar memahami implikasinya,” ujar Solomon.

        Meski pasar belum menunjukkan kepanikan besar, sejumlah indikator sudah mencerminkan tekanan. Harga minyak misalnya telah melonjak seiring kekhawatiran gangguan pasokan energi akibat meluasnya konflik di Timur Tengah.

        Di sisi lain, indeks saham global cenderung melemah karena investor melepas aset berisiko dan beralih ke aset lindung nilai (safe haven). Dolar juga menguat karena arus dana masuk ke instrumen yang dianggap lebih aman.

        Bagi Indonesia, Solomon memberikan sinyal bahwa volatilitas berpotensi meningkat dalam waktu dekat. Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi inflasi domestik dan nilai tukar rupiah, sementara penguatan dolar berpotensi menekan pasar saham negara berkembang.

        Baca Juga: Perang Meluas di Timur Tengah, Rupiah Melemah ke Rp16.872

        Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan geopolitik serta dampaknya terhadap harga energi dan kebijakan moneter global dalam beberapa pekan ke depan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: