Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengatakan bahwa gangguan di Selat Hormuz yang jadi jalur vital perdagangan minyak dunia akibat konflik Israel Amerika Serikat versus Iran berpotensi meningkatkan risiko pelayaran serta biaya asuransi secara global.
Budi menjelaskan, apabila terjadi gangguan operasional atau penutupan jalur tersebut, dampaknya dapat mendorong kenaikan harga energi dan biaya logistik global.
“Terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia, apabila terjadi gangguan atau penutupan, dampaknya bisa mendorong kenaikan harga energi dan biaya logistik secara global,” ujarnya kepada Warta Ekonomi, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan eksposur risiko pelayaran bagi industri asuransi.
“Bagi industri asuransi, hal ini berpotensi meningkatkan eksposur risiko pelayaran, tambahan premi war risk, serta tekanan klaim akibat keterlambatan pengiriman, perubahan rute, atau inflasi biaya perbaikan dan penggantian barang,” kata Budi.
Selain itu, kenaikan biaya energi dan logistik juga dapat memicu inflasi biaya penggantian barang yang pada akhirnya meningkatkan nilai klaim asuransi. Ke depan, industri asuransi akan terus memantau perkembangan situasi guna mengantisipasi potensi risiko lanjutan.
Lebih lanjut, Budi menegaskan bahwa arah penyesuaian premi dan syarat pertanggungan akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik serta stabilitas jalur perdagangan internasional.
Baca Juga: Ini Daftar Negara yang Langsung Terdampak Akibat Selat Hormuz Ditutup, Indonesia Termasuk?
Baca Juga: AAUI Ungkap Dampak Perang AS-Israel vs Iran ke Industri Asuransi RI
Baca Juga: Perang AS-Iran Buat Selat Hormuz Ditutup, Kinerja Industri Asuransi Bakal Tertekan
“Kewaspadaan terus ditingkatkan, dan arah penyesuaian premi maupun syarat pertanggungan akan sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik serta dinamika kapasitas reasuransi global ke depan,” tuturnya.
Sebagai informasi, Selat Hormuz dilaporkan ditutup pada Senin (2/3/2026). Penutupan tersebut disampaikan oleh komandan senior Garda Revolusi Iran, yang menyatakan setiap kapal yang melintas di jalur tersebut akan dijadikan sasaran sebagai langkah balasan dan pengamanan pascaserangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: