Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Ambruk 4%, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Dinilai Jadi Pemicunya

        IHSG Ambruk 4%, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Dinilai Jadi Pemicunya Kredit Foto: Annisa Nurfitri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok 4,02% ke level 7.620 pada perdagangan pagi ini, Rabu (4/3/2026). Mengutip data RTI pada pukul 10:24, IHSG sempat dibuka di level 7.896 dan menyentuh level tertinggi di angka 7.897. 

        Senior Technical Analyst, Nafan Aji Gusta melihat secara teknikal, IHSG berada dalam fase minor bearish didukung MA20&60 yang membentuk pola bearish crossover. Berdasarkan indikator, Stochastics KD dan RSI menunjukkan sinyal negatif serta didukung penurunan volume.

        Dia mengungkapkan, pelemahan indeks masih terjadi akibat sentimen perang AS-Iran yang berdampak terhadap harga energi dan inflasi global. Sentimen risk-off diperkirakan masih terjadi seiring dengan faktor geopolitik global dan kekhawatiran pasar terhadap inflasi serta volatilitas market. 

        "Jika berkepanjangan, perang itu dapat menekan perekonomian sebab ongkos logistik meningkat dan menekan peluang ekspor," jelas Nafan kepada wartaekonomi, Rabu (4/3/2026).

        Hal senada disampaikan oleh Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa. Ia menuturkan tekanan IHSG hari ini lebih dipicu sentimen eksternal, khususnya eskalasi konflik Timur Tengah yang meningkatkan risk off dari investor.

        ""Saya melihat tekanan ini lebih bersifat jangka pendek dan berbasis sentimen, bukan karena perubahan fundamental domestik," ujarnya dihubungi terpisah.

        Baca Juga: Duh! IHSG Tersungkur 3% Lebih ke Level 7.500

        Baca Juga: Tekanan Belum Reda, IHSG Hari Ini Rabu (4/3) Dibuka Ambruk 1%

        Baca Juga: Dana Asing Rp3,45 Triliun Masuk RI Saat IHSG Tumbang, Saham Ini Diborong!

        Menurutnya selama konflik tidak melebar dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi secara ekstrim, koreksi ini cenderung menjadi fase konsolidasi. 

        Adapun lanjut Reydi, untuk saham-saham migas, secara teori memang diuntungkan jika harga minyak dunia naik akibat gangguan pasokan Namun investor tetap harus selektif, karena lonjakan harga minyak yang terlalu tinggi juga bisa memicu kekhawatiran inflasi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: