Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        UBS OneASEAN Summit 2024: Asia Tenggara Semakin Dipandang sebagai Alternatif Strategis Investasi Global

        UBS OneASEAN Summit 2024: Asia Tenggara Semakin Dipandang sebagai Alternatif Strategis Investasi Global Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Untuk ke-14 kalinya, UBS kembali menyelenggarakan UBS OneASEAN Summit. Gelaran ini mempertemukan lebih dari 850 investor institusional, pembuat kebijakan, serta pemimpin industri dari berbagai negara.

        Forum tahunan ini menjadi wadah bertukar pandangan dan ide investasi terkini dalam menyikapi dinamika ekonomi serta peluang yang berkembang di kawasan Asia Tenggara menuju tahun 2026.

        Nicolo Magni, Head of UBS Global Banking South-East Asia & South Asia, dalam keterangan resminya, Rabu (4/3/2026) mengatakan bahwa Asia Tenggara semakin dipandang sebagai alternatif strategis bagi investor global. 

        “Kami melihat momentum transaksi akan tetap kuat sepanjang 2026, dengan aktivitas pasar modal yang semakin dinamis terutama di sektor healthcare, real estate, dan konsumen," ujarnya.

        Grace Lim, Senior ASEAN and Asia Economist di UBS Investment Bank Global Research juga menyoroti fundamental ekonomi kawasan yang tetap solid di tengah ketidakpastian global.

        "Kami memperkirakan pertumbuhan PDB ASEAN-6 akan berada di kisaran 4,9 persen pada 2026. Angka ini mencerminkan fase ekspansi yang stabil. Asia Tenggara terus mendapatkan manfaat dari integrasi yang mendalam dalam rantai nilai manufaktur global, didukung oleh basis pasar domestik yang besar.”

        “Kondisi pertumbuhan tetap terjaga, dengan konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama di Indonesia, peningkatan investasi swasta di Thailand dan Filipina, serta ketahanan ekspor berbasis teknologi di Singapura dan Malaysia," lanjut Grace.

        Selama dua hari penyelenggaraan, UBS OneASEAN Summit menghadirkan tinjauan terhadap lanskap investasi global dan implikasinya bagi perekonomian Asia Tenggara.

        Beberapa topik utama yang diangkat antara lain ketidakseimbangan perdagangan global, peluang investasi lintas kawasan di Tiongkok, Jepang, dan Eropa, prospek emas dan logam mulia, hingga perkembangan digital assets dan artificial intelligence (AI) di ASEAN. Konferensi ini juga membahas peran sistem energi baru dalam menopang ekonomi yang semakin digerakkan oleh AI.

        Baca Juga: Market Cap Pasar Modal RI Tembus Rp14.800 Triliun di Akhir Februari, Terbesar di Asia

        Sejumlah pembicara terkemuka turut hadir dalam forum ini, antara lain:

        • Suahasil Nazara, Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia
        • Brad Setser, Whitney Shepardson Senior Fellow, Council on Foreign Relations
        • Alfred Schipke, Professor of the Practice of International Finance, Lee Kuan Yew School of Public Policy dan Director, East Asian Institute, National University of Singapore
        • Prof. Ken Jimbo, Managing Director, International House of Japan dan President, Asia Pacific Initiative; Professor, Faculty of Policy Management, Keio University
        • Peter Conti-Brown, Class of 1965 Associate Professor of Financial Regulation, Associate Professor of Legal Studies & Business Ethics, The Wharton School, University of Pennsylvania
        • William Dalrymple, sejarawan Inggris, penyiar, serta penulis buku terlaris dan peraih penghargaan White Mughals, The Last Mughal, dan Return of a King.

        Dengan fundamental ekonomi yang kuat, dukungan kebijakan yang kondusif, serta beragam peluang di berbagai sektor, Asia Tenggara diproyeksikan akan terus menjadi pusat perhatian investor global di tahun-tahun mendatang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel:

        Berita Terkait