Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Penipuan Digital Meledak Saat THR Cair, Waspada!

        Penipuan Digital Meledak Saat THR Cair, Waspada! Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Jelang momen Lebaran dan saat pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), kasus penipuan digital biasanya melonjak seiring dengan banyaknya aktivitas transaksi masyarakat pada periode tersebut.

        Data internal penyedia solusi identitas digital dan pencegahan penipuan VIDA menunjukkan bahwa momen pembayaran THR ini kerap menjadi salah satu periode tertinggi penipuan sepanjang 2025 dengan angka 80% penipuan One-Time Password (OTP).

        Baca Juga: Puncak Big Ramadan Sale Shopee 9 Maret: Siapkan THR, Buru Diskon 50% hingga iPhone Rp1!

        Founder & Group CEO VIDA Niki Luhur mengatakan peningkatan aktivitas transaksi dan mobilitas masyarakat pada periode tersebut membuka lebih banyak peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksinya.

        “Penipuan selalu beradaptasi. Setiap kali sistem pertahanan diperkuat, pelaku menguji ulang, menyesuaikan teknik, dan kembali dengan metode yang lebih kompleks dan sistematis. Mereka memanfaatkan celah keamanan, kelemahan literasi digital masyarakat, serta momentum tertentu untuk melancarkan aksinya,” ujar Niki dalam keterangan tertulis, Minggu (8/3/2026).

        Ia mengatakan, praktik penipuan digital saat ini tidak lagi bersifat sporadis, melainkan semakin terorganisir dan berkembang karena sudah banyak teknik yang digunakan pelaku untuk mengakses data pribadi pengguna.

        Adapun modus yang paling sering digunakan adalah pelaku menyamar sebagai institusi resmi, misalnya perusahaan logistik atau pihak yang menawarkan promo Ramadan palsu.

        Bahkan, modus ini juga berkembang seiring dengan penggunaan fake Base Transceiver Station (BTS), yang memungkinkan pelaku mengirimkan pesan secara massal tampak sebagai lembaga resmi dan meyakinkan korban untuk mengklik tautan tertentu dan memasukkan data pribadi seperti username, password, hingga OTP.

        Perlu diwaspadai, skema ini biasanya memancing korban untuk mengunduh file dengan format APK yang disamarkan sebagai dokumen atau informasi penting. Setelah terpasang, aplikasi tersebut bisa memberi akses jarak jauh kepada pelaku untuk memantau aktivitas pengguna, termasuk memiliki password hingga informasi sensitif lainnya.

        Baca Juga: Bos Pajak Beberkan Alasan THR Swasta Dipotong, ASN Ditanggung Pemerintah

        Melihat modus tersebut, Niki menilai metode keamanan berbasis password saja tidak lagi cukup menghadapi ancaman digital yang semakin kompleks. Adanya identitas biometrik pengguna seperti wajah dan sidik jari perlu dimanfaatkan sebagai keamanan tambahan.

        “Password dan OTP tidak lagi dapat menjadi satu-satunya cara verifikasi yang aman, mengingat maraknya kebocoran data serta berbagai teknik penipuan yang terus berkembang. Karena itu, perangkat yang kita miliki (what you have) serta identitas biometrik (who you are) perlu dilindungi dan dimanfaatkan sebagai lapisan keamanan tambahan. VIDA menerapkan pendekatan layered defense yang memperkuat perlindungan perangkat sekaligus menghadirkan verifikasi berbasis biometrik untuk membangun rasa aman dan meningkatkan kepercayaan konsumen,” ujar Niki.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: