Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Efek Nexperia, China Peringatkan Krisis Chip Global Baru

        Efek Nexperia, China Peringatkan Krisis Chip Global Baru Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        China memperingatkan potensi krisis rantai pasok semikonduktor global akibat konflik yang semakin memanas antara Nexperia Belanda dan Anak Usahanya (Nexperian China) di China.

        Kementerian Perdagangan China menyebut perselisihan internal perusahaan tersebut dapat memicu gangguan produksi chip yang digunakan secara luas dalam industri otomotif global.

        Baca Juga: Menlu China Desak AS-Iran Hentikan Perang: Senjata Adalah Alat Malapetaka

        Unit Pengemasan Chip Nexperia China menyebut bahwa akun sistem bagi seluruh karyawannya telah dinonaktifkan oleh kantor pusat di Belanda. Hal tersebut telah mengganggu operasional perusahaan.

        “Langkah tersebut memicu konflik baru dan menciptakan hambatan baru bagi negosiasi antar perusahaan,” kataKementerian Perdagangan China.

        China bahkan memperingatkan bahwa konflik ini bisa kembali memicu krisis semikonduktor global. Belanda menurutnya juga harus menanggung tanggung jawab penuh.

        Sebelumnya produksi industri otomotif global sempat terganggu menyusul kontrol ekspor terhadap chip dari Nexperia China. Meskipun kekurangan chip sempat mereda setelah negosiasi diplomatik, perselisihan antara kantor pusat dan unit terus berlanjut.

        Perselisihan sendiri bermula dari manuver Belanda. Ia mengambil alih perusahaan dari Induk Perusahaan Asal China, Wingtech Technology. Langkah tersebut memicu ketegangan antara kantor di Belanda dan di China.

        Di China, uni perusahaan menuntut agar kendali dipulihkan. Di Belanda, kantor pusat mendukung keputusan pemerintah yang mengakhiri kepemilikan tersebut. Akibatnya, konflik internal perusahaan semakin memburuk.

        Baca Juga: Perang Iran-Israel Memanas, Australia Evakuasi Keluarga Diplomat dari Timur Tengah

        Pemerintah China, Belanda, dan Uni Eropa telah mencoba mendorong penyelesaian melalui mediasi. Namun hingga kini negosiasi antara kedua pihak belum mencapai kesepakatan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: