- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Uji Jalan B50: ESDM Sebut Pajero dan Fortuner 'Ngacir,' Target Rampung Akhir Maret
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mempercepat langkah implementasi Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis Biodiesel 50 persen (B50).
Berdasarkan hasil uji coba jalan (road test) sementara, B50 terbukti aman dan efisien digunakan pada kendaraan penumpang bermesin diesel, seperti Mitsubishi Pajero dan Toyota Fortuner.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan, evaluasi awal menunjukkan tidak ada dampak negatif atau kerusakan pada mesin kendaraan, selama proses pengujian berlangsung.
"Jadi yang sudah selesai untuk kendaraan ini ada beberapa yang sudah berjalan ya, kayak Fortuner, Pajero, kemudian itu juga ada angkutan bus itu kan juga sudah berjalan."
"Jadi untuk ini kita sudah evaluasi, enggak ada dampak terhadap kendaraan yang bersangkutan. Itu yang pertama."
"Yang kedua, ini dari sisi efisiensi itu juga cukup bagus efisiensinya," ungkap Yuliot di KESDM, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Melihat hasil positif tersebut, Kementerian ESDM memutuskan mengebut proses uji jalan agar rampung lebih cepat dari target awal, yang dijadwalkan pada Juni atau Juli mendatang.
Saat ini, kendaraan uji coba telah menempuh jarak sekitar 40.000 kilometer.
Yuliot menargetkan, uji jalan untuk mobil penumpang mencapai batas akhir 50.000 kilometer pada akhir Maret ini.
Ia mengaku turun langsung untuk memastikan penambahan jarak tempuh harian.
"Ini kan saya cek sendiri di lapangan bagaimana uji layak jalannya, dan kita juga jarak tempuh itu juga ditambah, sehingga ini ada percepatan."
"Ya mudah-mudahan itu aman lah," jelasnya.
Sementara, untuk moda transportasi kereta api, uji coba baru akan dilakukan usai libur Lebaran.
Selain performa mesin yang apik, percepatan B50 juga didorong oleh urgensi keekonomian.
Yuliot memaparkan, tren harga minyak mentah dunia (crude oil) yang sedang tinggi, membuat penerapan B50 menjadi opsi yang sangat menguntungkan bagi keuangan negara.
"Kalau keekonomian dengan harga minyak cukup tinggi sekarang, untuk penggunaan biodiesel B50 ya justru ini menjadi lebih ekonomis."
"Jadi subsidi atau kompensasi yang diberikan itu menjadi lebih rendah," terang Yuliot.
Bahkan, B50 juga disiapkan sebagai langkah penyangga strategis, apabila sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat yang mengganggu rantai pasok impor minyak mentah ke Indonesia.
"Kalau emergency ya kita lakukan percepatan."
"Misalnya kita pada saat itu memerlukan impor dari luar untuk beberapa jenis, ternyata ini untuk crude terutama kalau ini kita tidak dapat, ya kita percepat pelaksanaan untuk implementasi B50 ini," tambahnya.
Meski demikian, mengenai waktu penerapan resmi B50 secara nasional, Yuliot menyatakan hal tersebut belum sepenuhnya berstatus final.
Namun, sesuai arahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, target peluncurannya dicanangkan pada tahun depan.
"Pak Menteri sudah menyampaikan kemarin kan, B50 bisa diimplementasikan semester 2 2026 ini," ungkapnya.
Untuk mendukung implementasi tersebut, pemerintah saat ini juga tengah menggenjot kesiapan infrastruktur, terutama fasilitas penyimpanan (storage).
Pembangunan tangki penyimpanan tidak hanya dipusatkan di satu titik, melainkan tersebar di fasilitas kilang yang ada.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Bahlil Dorong Percepatan B50 dan E20
"Untuk storage ya bisa di beberapa lokasi ya."
"Seperti di Kalimantan kan kita sudah tambahkan di Balikpapan, kemudian yang di Cilacap ini kita usahakan itu ada penambahan storage juga, sehingga kapasitas penyimpanan kita justru menjadi lebih meningkat," beber Yuliot. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: