- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Pemerintah Genjot Migas Nonkonvensional di Rokan, Potensinya Tembus 500 Ribu BPH
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Pemerintah mempercepat pengembangan minyak dan gas bumi (migas) nonkonvensional di Blok Rokan setelah pengeboran dan uji sumur yang dilakukan Pertamina menunjukkan potensi produksi mencapai 500 ribu barel minyak per hari.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengungkapkan Pertamina telah menyelesaikan pengeboran dan pengujian sumur migas nonkonvensional di wilayah kerja Rokan. Hasil awal menunjukkan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan secara komersial.
“Sudah dibor, sudah berhasil, sudah dites, sekarang Pertamina lagi mau mengajukan kontrak bagi hasilnya yang lebih menguntungkan. Tadi kami dari pagi membahas dengan Pak Wamen untuk Pertamina mengajukan berdasarkan nanti kepmen yang sedang dibahas mudah-mudahanan hari ini selesai,” ujar Djoko di KESDM, Jumat, (5/6/2026).
Temuan tersebut menjadi angin segar bagi pemerintah yang tengah berupaya meningkatkan produksi migas nasional di tengah tren penurunan alamiah (natural decline) pada sejumlah lapangan migas konvensional yang telah lama beroperasi.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan Blok Rokan menjadi wilayah kerja yang paling siap untuk menerapkan teknologi migas nonkonvensional berdasarkan hasil identifikasi cadangan dan survei geologi yang telah dilakukan pemerintah.
“Jadi yang terkait dengan (pelemahan rupiah), kita kan berusaha untuk meningkatkan produksi dalam negeri…Apa yang kita lakukan diantaranya itu adalah untuk blok-blok yang memiliki cadangan yang cukup berdasarkan identifikasi dari survei geologi, ini kita akan menerapkan teknologi unconventional…Jadi untuk unconventional ini, yang wilayah kerja yang paling memungkinkan saat ini adalah wilayah rokan,” ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Menurut Yuliot, peningkatan produksi domestik menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Produksi yang lebih tinggi akan membantu menekan impor minyak sehingga dampak fluktuasi nilai tukar dan gejolak pasar energi global dapat diminimalkan.
Untuk mempercepat implementasi program tersebut, pemerintah saat ini tengah menuntaskan kerangka regulasi migas nonkonvensional. Pembahasan dilakukan bersama SKK Migas dan sejumlah penyedia teknologi yang telah menyampaikan penawaran kepada pemerintah.
Baca Juga: DEN Sebut Impor Migas via BLU Hanya untuk Kondisi Mendesak
Baca Juga: Pertamina Drilling Gandeng Halliburton Bidik Proyek Migas Global
“SKK Migas itu minta kalau bisa akhir Juni ini, sudah bisa diselesaikan kerangka regulasinya dan juga bisa diimplementasikan pada awal Juli. Jadi ini kita lagi berkejaran dengan waktu…Jadi kalau ini tingkat produksi dalam negeri terjadi peningkatan, berarti kita juga akan mengurangi import, dan juga tidak terpengaruh terhadap perubahan atau fluktuasi mata uang,” tandasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: