Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kebutuhan Konsumsi Minyak Dunia: 100 Juta Barel Per Hari Dikurangi 20 Persen Akibat Perang di Kawasan Teluk

        Kebutuhan Konsumsi Minyak Dunia: 100 Juta Barel Per Hari Dikurangi 20 Persen Akibat Perang di Kawasan Teluk Kredit Foto: Annisa Nurfitri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah kembali menegaskan bahwa fakta minyak masih menjadi senjata ekonomi paling kuat dan dapat mengguncang stabilitas ekonomi global.

        Meski berbagai negara mulai beralih ke energi terbarukan, ketergantungan dunia terhadap minyak ternyata tetap sangat besar.

        Laporan dari The New York Times menjelaskan bahwa risiko gangguan pasokan minyak saat ini memiliki kemiripan yang mengkhawatirkan dengan krisis energi di masa lalu.

        Sejarah mencatat krisis energi besar terjadi pada 1973, ketika embargo minyak yang dipimpin Arab Saudi membuat pasokan energi ke Amerika Serikat terganggu dan memicu lonjakan harga di seluruh dunia.

        "Pada masa itu, minyak menyumbang hampir setengah dari total kebutuhan energi global," seperti dinarasikan oleh koresponden The New York Times, Rebecca Elliott.

        Kini, komposisi energi dunia memang telah berubah. Pangsa minyak dalam bauran energi global turun menjadi sekitar 30 persen, seiring meningkatnya penggunaan gas alam, energi nuklir, dan sumber energi terbarukan.

        "Namun penurunan persentase ini tidak berarti ketergantungan dunia terhadap minyak ikut berkurang secara nyata," tambahnya.

        Meski porsinya mengecil, total konsumsi energi dunia meningkat tajam. Akibatnya, penggunaan minyak secara absolut justru melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan era 1970-an.

        Pada 1973, konsumsi minyak global masih di bawah 60 juta barel per hari. Saat ini, angkanya telah melampaui 100 juta barel per hari.

        Dampak konflik Timur Tengah terhadap harga energi global juga tidak lepas dari faktor geografis. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia berasal dari kawasan Teluk Persia.

        "Ketika konflik meningkat dan jalur distribusi dari kawasan tersebut terganggu, dampaknya langsung terasa pada pasar energi global. Harga minyak bisa melonjak dalam waktu singkat dan memicu efek berantai pada perekonomian dunia," jelasnya.

        Para analis energi menilai kerentanan ini sebenarnya hampir tidak berubah selama beberapa dekade. Banyak negara masih bergantung pada pasokan energi yang berasal dari luar wilayahnya, sehingga rentan terhadap gejolak geopolitik.

        Arah kebijakan energi global ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan stabilitas pasokan minyak. Lonjakan harga energi sering kali menjadi pemicu percepatan transisi energi, tetapi prosesnya tidak bisa berlangsung cepat.

        "Perang di Timur Tengah bukan sekadar konflik regional, melainkan juga pengingat bahwa transisi dari ketergantungan pada minyak menuju energi bersih ternyata jauh lebih lambat dan kompleks daripada yang selama ini diperkirakan," tutupnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: