Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani menegaskan bahwa pihaknya tidak berniat menutup Selat Hormuz. Namun ia menegaskan kondisi jalur pelayaran minyak tersebut merupakan akibat serangan dari Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah.
Iravani mengatakan bahwa pihaknya memiliki hak untuk menjaga keamanan dalam jalur pelayaran dari Selat Hormuz. Ia mengatakan tidak akan menutup jalur vital kapal tanker minyak tersebut.
Baca Juga: Israel Akan Gulingkan Rezim Mojtaba Khamenei di Iran
“Kami tidak akan menutup Selat Hormuz. Tetapi merupakan hak inheren kami untuk menjaga perdamaian dan keamanan di jalur perairan ini,” kata Iravani.
Iravani menegaskan bahwa pihaknya tetap menghormati prinsip kebebasan navigasi sesuai dengan hukum laut internasional. Ia mengatakan negaranya berkomitmen pada aturan tersebut meskipun ketegangan dalam kawasan meningkat akibat konflik yang sedang berlangsung.
“Iran sepenuhnya menghormati dan tetap berkomitmen pada prinsip kebebasan navigasi sesuai hukum laut,” ujarnya.
Situasi Selat Hormuz menurutnya juga bukan disebabkan oleh langkah dari Iran. Ia justru menyebut bahwa isu terkait jalur tersebut merupakan akibat tindakan militer dari Amerika Serikat.
“Situasi saat ini dalam kawasan bukan akibat pelaksanaan hak kami untuk membela diri secara sah. Sebaliknya, ini merupakan konsekuensi langsung dari tindakan destabilisasi Amerika Serikat yang melancarkan agresi terhadap Iran dan merusak keamanan regiona,” katanya.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global, dengan sekitar dua puluh persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati perairan sempit tersebut setiap harinya.
Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei menegaskan negaranya akan terus berperang dan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. Jalur tersebut akan digunakan sebagai alat tekanan terhadap Israel dan Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Konflik Iran-Amerika Serikat: Mojtaba Khamenei Desak Timur Tengah Tutup Pangkalan Militer AS
Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi besar-besaran telah mendorong harga minyak dunia mendekati US$100. Hal tersebut memperbesar tekanan terhadap perekonomian global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: