Kredit Foto: Istimewa
Rencana ekspor listrik bersih RI menuju Singapura kembali mencuat dalam Pertemuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, bersama Minister for Manpower sekaligus penanggung jawab energi Singapura Tan See Leng di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026).
Dalam kesempatan itu, Bahlil menawarkan Pemerintah Singapura menyerap listrik dari produksi Pembangkit Listrik Tenaga Surya.
Asal tahu saja, rencana jual beli listrk ke Singapura ini telah tertuang dalam MoU yang ditandatangani kedua negara pada 13 Juni 2025.
Dalam kesepakatan itu, disebutkan jumlah ekspor listrik yang akan disalurkan mencapai 3,4 GW, yang akan disuplai dari pembangkit PLTS+ Baterai (Battery Energy Storage System).
Namun, dalam kesepakatan itu, RI juga menyodorkan berbagai syarat agar dapat dipenuhi sehingga ekspor listrik bisa dilakukan.
Di antaranya, meminta Singapura berperan dalam membangun kawasan industri berkelanjutan di wilayah Batam, Bintan, dan Karimum (BBK), Kepulauan Riau.
Wilayah ini digadang akan menjadi fasilitas produksi dan pusat teknoloogi industri hijau di indonesia.
“Saya sudah mendapat laporan kawasan industri sudah hampir final."
"Nanti kita akan bangun di wilayah Kepri."
"Dan ini saya lagi meng-clear-kan."
"Kalau itu sudah selesai, maka saya pikir ini salah satu kemajuan dalam persiapan,” ujar Bahli dalam keterangannya.
Dengan dukungan teknis dan investasi dari Singapura serta sumber daya melimpah dari Indonesia, visi menjadi pemain kunci dalam rantai pasok energi hijau kini berada di jalur yang tepat.
Implementasi nyata melalui pilot project di kawasan BBK diharapkan dapat segera dimulai dalam waktu dekat, sebagai bukti konkret dari tiga MoU yang telah ditandatangani sebelumnya.
Senada dengan hal tersebut, Minister Tan See Leng menyambut baik progres teknis terkait kerja sama ini.
“Saya rasa sebagian besar diskusi teknikal sudah mengalami kemajuan yang baik,” ujar Tan See Leng.
Pemerintah menyiapkan skema agar kebutuhan listrik dalam negeri tetap diprioritaskan sebelum ekspor, sekaligus membuka peluang kerja sama teknologi rendah karbon seperti penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture Storage/CCS).
Baca Juga: PLN Beri Tips Agar Listrik Tetap Aman saat Rumah Ditinggal Mudik
“Yang menyangkut CCS, aturan-aturannya sudah saya persiapkan."
"Itu kemudian bisa kita lakukan kolaborasi,” ucap Bahlil. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus