Korea Selatan Waspadai Sidang Parlemen Korea Utara: Bahas Revisi Konstitusi dan Program Nuklir
Kredit Foto: Reuters/KCNA
Korea Utara Supreme People's Assembly dijadwalkan menggelar sidang pertamanya pada 22 Maret. Pembahasan dalam sidang tersebut menjadi sorotan, khususnya bagi Korea Selatan.
Dikutip dari Korean Central News Agency (KCNA), Korea Utara akan membahas revisi konstitusi serta pelaksanaan rencana kebijakan nasional lima tahun. Sidang tersebut juga akan memilih posisi kepemimpinan tinggi, termasuk presiden dari State Affairs Commission.
Baca Juga: Kim Jong Un Kirim Pesan Keras ke Korea Selatan dan Amerika Serikat
Adapun sebelumnya, parlemen telah memutuskan terkait rencana pembangunan lima tahun yang mencakup perluasan arsenal nuklir serta mengembangkan rudal jarak jauh yang lebih kuat, seperti janji dari Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.
Kim sendiri diketahui memegang kekuasaan utama di negara itu sebagai Sekretaris Jenderal Partai Pekerja Korea, Presiden State Affairs Commission dan Panglima Tertinggi Tentara Rakyat Korea. Ia diperkirakan akan kembali dipilih sebagai presiden komisi tersebut dalam sidang parlemen mendatang.
Adapun daftar anggota parlemen baru juga mencakup Adik Perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong. Ia dikenal memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan. Korea Selatan menilai sosok tersebut sering bertindak sebagai juru bicara atau perwakilan tidak resmi bagi kakaknya dalam urusan diplomatik.
Seoul juga mengamati kemungkinan perubahan konstitusi dari Korea Utara. Pasarnya, hal tersebut dapat secara resmi menyebut pihaknya sebagai negara terpisah dan bermusuhan. Jika hal tersebut dimasukkan ke dalam konstitusi, langkah itu dinilai dapat menjadi pukulan bagi upaya dialog dan rekonsiliasi antara kedua negara yang selama ini terpecah sejak Perang Korea.
Meski secara formal parlemen memiliki fungsi legislatif dan pengawasan kebijakan, keputusan politik pada praktiknya biasanya telah ditentukan oleh Partai Pekerja Korea di Korea Utara.
Sebelumnya, Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un mengawasi langsung uji peluncuran dua belas peluncur roket kaliber enam ratus mm. Latihan tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kemampuan serangannya terhadap target dalam jarak 420 Km.
Kim mengatakan latihan tersebut akan membuat musuh memahami kekuatan senjata dari Korea Utara. Menurutnya, uji coba itu akan menimbulkan kekhawatiran bagi pihak yang berada dalam jangkauan serangan dan menunjukkan daya hancur senjata nuklir taktis dari Korea Utara.
Baca Juga: Dipantau Kim Jong Un, Korea Utara Gencar Modernisasi Produksi Senjata
Kim memberikan pesan balasan keras melalui hal tersebut terhadap latihan militer tahunan skala besar yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: