Alasan Kim Jong Un Kirim Pasukan Korea Utara ke Ukraina: Gagalkan Hegemoni Amerika Serikat
Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Korea Utara menegaskan bahwa pihaknya akan terus memperkuat kerja sama dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang militer, dengan Rusia. Hal ini menyusul keterlibatan pasukan dari negara tersebut dalam perang dari Moskow-Ukraina.
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un menegaskan bahwa negaranya akan terus mendukung kebijakan negara tersebut dan memperkuat kerja sama militer dengan Moskow. Pernyataan ini mempertegas kedekatan kedua negara yang dinilai akan berlanjut bahkan setelah perang di Ukraina.
Baca Juga: Pasokan Minyak Global Masih Terganggu Meski Selat Hormuz Dibuka, Rusia: Butuh Waktu Berbulan-bulan
Kim memuji pasukan negaranya yang bertempur bersama dan menegaskan dukungan penuh terhadap Moskow di Ukraina.
"Pemerintah Korea Utara akan terus sepenuhnya mendukung kebijakan mereka dalam mempertahankan kedaulatan dan keamanan," kata Kim.
Ia menyatakan operasi militer bersama negara tersebut berhasil menggagalkan apa yang disebutnya sebagai petualangan militer dan upaya hegemonik dari Amerika Serikat.
Korea Utara dilaporkan mengirim sekitar 14.000 tentara untuk membantu Rusia di Kursk. Namun, 6.000 tentara tersebut dilaporkan tewas dalam pertempuran tersebut. Pyongyang, sebagai imbalan, disebut menerima bantuan teknologi militer dan dukungan ekonomi dari Rusia.
Kim juga mengangkat pasukannya yang gugur sebagai simbol pengorbanan nasional, melalui pembangunan monumen dan acara kenegaraan.
"Arwah para pahlawan akan hidup selamanya dengan kehormatan besar yang mereka pertahankan," ujarnya.
Adapun Menteri Pertahanan Rusia, Andrei Belousov baru-baru menghadiri peresmian monumen untuk tentara dari Korea Utara. Monumen itu hadir untuk menghormati mereka yang gugur di Kursk, Rusia.
Belousov mengatakan kedua pihak telah sepakat untuk menyusun kerja sama militer jangka panjang hingga periode 2027–2031.
Analis menilai langkah ini menunjukkan upaya membangun aliansi formal yang lebih permanen. Far Analis Eastern Studies Kyungnam University, Profesor Lim Eul-chul menyebut rencana tersebut sebagai indikasi bahwa hubungan kedua negara akan berkembang menjadi kemitraan strategis yang lebih terstruktur.
Hubungan Rusia-Korea Utara sendiri diperkuat melalui perjanjian “Comprehensive Strategic Partnership Treaty” di 2024. Perjanjian tersebut mencakup klausul pertahanan bersama.
Baca Juga: Korea Selatan Mau Uji Blockchain dalam Pembayaran APBN
Penguatan hubungan tersebut berpotensi mengubah dinamika geopolitik global, terutama dalam konteks konflik dari Ukraina. Dengan rencana kerja sama jangka panjang dan integrasi yang semakin dalam, hubungan antara keduanya diperkirakan akan menjadi salah satu poros penting dalam politik global ke depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: