Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Trump Buka Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Dunia dan Pasar Saham Langsung Bergejolak

        Trump Buka Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Dunia dan Pasar Saham Langsung Bergejolak Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat manuver mengejutkan terkait Iran yang memicu gejolak di pasar global.

        Perubahan sikap mendadak diumumkan pada Senin (23/3) disebut menjadi salah satu yang paling mencolok sejak ia kembali berkuasa tahun lalu.

        Sejak menjabat kembali, Trump secara terbuka mengandalkan pendekatan berbasis insting dalam mengambil kebijakan.

        Dalam konflik Timur Tengah, ia kerap menyampaikan pernyataan yang saling bertentangan terkait tujuan dan tenggat waktu. Bahkan pada 13 Maret lalu, ia menyebut perang akan berakhir saat instingnya berbicara.

        Menanggapi hal itu, Profesor Hubungan Internasional di American University, Garret Martin, menilai Trump dikenal piawai melakukan perubahan arah secara tiba-tiba.

        Menurutnya, hal itu kerap menimbulkan ketidakpastian apakah kebijakan yang diambil merupakan bagian dari strategi atau sekadar improvisasi.

        Martin menjelaskan, pola perubahan sikap Trump umumnya berulang, Trump sering memulai dengan ancaman ke negara-negara lain di bidang perdagangan, diplomasi, atau militer yang disertai ultimatum dan mengejutkan dunia internasional.

        Namun setelah itu, Trump kerap berbalik arah, mengklaim telah memperoleh konsesi penting tanpa merinci, serta menjanjikan penyelesaian krisis.

        Pola tersebut berdampak langsung pada pergerakan pasar. Pada Senin, harga minyak dunia anjlok sementara pasar saham melonjak setelah Trump melalui platform Truth Social mengumumkan adanya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik.

        Minyak mentah Brent crude tercatat turun lebih dari 14 persen, sedangkan West Texas Intermediate melemah hampir 10 persen. Di saat yang sama, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak hingga 700 poin.

        Perubahan sikap ini terjadi hanya dalam hitungan hari. Sebelumnya, Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global, dengan ancaman serangan besar terhadap fasilitas listrik negara milik Iran.

        Namun pada Senin, ia justru menetapkan tenggat baru selama lima hari untuk memberi ruang bagi kelanjutan negosiasi.

        Trump menyebut pembicaraan berlangsung “sangat produktif” dengan pejabat Iran yang ia gambarkan sebagai pihak yang “dihormati” dan “solid”, tanpa mengungkap identitas mereka.

        Di sisi lain, pejabat Iran membantah adanya negosiasi, yang kemudian meredam sebagian optimisme pasar. Dalam pidatonya di Memphis, Tennessee, Trump tetap menonjolkan kemampuan negosiasinya tanpa merinci hasil konkret dari pembicaraan tersebut.

        Fenomena perubahan sikap ini bahkan memunculkan istilah TACO (Trump Always Chickens Out) yang merujuk pada kebiasaan Trump yang kerap mundur setelah mengeluarkan ancaman besar.

        Konsep TACO juga dikenal di kalangan investor sebagai strategi memanfaatkan penurunan harga aset akibat pernyataan kontroversial Trump untuk membeli di harga rendah, lalu menjual kembali saat kebijakan berubah.

        Contoh lain dari pola ini terlihat saat Trump menarik wacana pengambilalihan Greenland oleh AS, serta saat ia melunak dalam sikapnya terhadap Ketua The Fed Jerome Powell terkait suku bunga.

        Martin menilai, meski kerap mengguncang pasar, manuver putar balik tersebut sering kali tidak diikuti kejelasan hasil kesepakatan. Ia menyebut mitra maupun lawan Amerika Serikat kini memahami bahwa kebijakan pemerintahan Trump bersifat tidak permanen.

        Dalam kasus Iran, Martin memperkirakan perubahan sikap Trump dipengaruhi tiga faktor utama, yakni gejolak pasar, potensi tekanan dari negara-negara Teluk, serta munculnya ketegangan di internal gerakan politiknya, Make America Great Again.

        Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahnya tengah menjalin komunikasi dengan sejumlah tokoh berpengaruh di Iran guna mengupayakan penghentian perang. Meski demikian, ia menegaskan tidak melakukan pembicaraan langsung dengan pemimpin tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: