Terobosan Daur Ulang di Jepang: Popok Bekas Diolah Kembali Menjadi Popok Baru
Kredit Foto: Confidence
Jepang baru-baru ini mencatat terobosan baru dalam pengelolaan limbah dengan mendaur ulang popok bekas menjadi popok baru. Inovasi ini muncul di tengah meningkatnya jumlah limbah popok akibat populasi lansia yang terus bertambah.
Setiap tahun, miliaran popok bekas di Jepang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau dibakar. Menariknya, sebagian besar limbah tersebut bukan berasal dari bayi, melainkan dari penggunaan popok dewasa yang meningkat seiring penuaan populasi.
Sebuah proyek percontohan yang disebut sebagai yang pertama di dunia kini mendaur ulang bahan utama popok bekas untuk diproduksi kembali menjadi popok baru. Inisiatif ini diharapkan dapat mengurangi beban TPA sekaligus menjawab kebutuhan popok dewasa yang terus meningkat.
"Permintaan popok bayi memang menurun. Namun, jumlah lansia yang menggunakan popok terus bertambah, bahkan hewan peliharaan juga mulai menggunakannya," kata Presiden perusahaan produk kebersihan Jepang Unicharm, Takahisa Takahara, dikutip dari Agence France-Presse (AFP).
Ia menambahkan, program tersebut juga bertujuan mengubah persepsi masyarakat terhadap produk sekali pakai. Menurutnya, jika konsumen mulai melihat produk daur ulang sebagai pilihan normal, maka langkah ini akan memberikan nilai ekonomi sekaligus manfaat lingkungan.
Saat ini, Unicharm menguji program tersebut di dua kota di Jepang selatan, yakni Shibushi dan Osaki. Kedua wilayah dengan total sekitar 40.000 penduduk ini dikenal memiliki tingkat daur ulang tinggi, yakni sekitar 80 persen limbah rumah tangga.
Sekitar 25 tahun lalu, kedua kota tersebut mengambil langkah drastis setelah diperkirakan TPA komunal mereka akan penuh pada 2004. Berkat kebijakan pengelolaan sampah yang ketat, TPA tersebut kini diproyeksikan masih dapat digunakan hingga empat dekade ke depan.
Pada 2024, popok bekas mulai dimasukkan dalam program daur ulang wajib. Warga diminta memisahkan popok bekas dan menuliskan nama pada kantong sampah khusus untuk memudahkan pengawasan.
Popok bekas yang terkumpul kemudian dihancurkan, dicuci, dan dipisahkan menjadi beberapa komponen utama, yaitu pulp (bubur kertas), plastik, serta polimer super-penyerap atau SAP.
Sebelumnya, bahan hasil daur ulang hanya bisa digunakan untuk produk dengan standar sanitasi lebih rendah, seperti tisu toilet. Namun kini, Unicharm berhasil mengembangkan teknologi untuk mengolah kembali pulp menjadi popok baru.
Proses tersebut menggunakan perawatan ozon khusus untuk sterilisasi, pemutihan, dan penghilangan bau, sehingga memenuhi standar kesehatan yang ketat.
Eksekutif senior bisnis daur ulang Unicharm, Tsutomu Kido, mengatakan perusahaan menargetkan pada 2028 seluruh komponen popok, termasuk plastik dan polimer penyerap dapat didaur ulang sepenuhnya menjadi popok baru.
Saat ini, produk popok hasil daur ulang masih dijual terbatas di beberapa toko lokal dengan harga sekitar 10 persen lebih mahal dibandingkan produk biasa. Popok tersebut juga didistribusikan ke pusat perawatan anak dan lansia tertentu sebagai bagian dari uji coba.
Unicharm juga tengah mengembangkan metode untuk mengurangi penggunaan air dalam proses daur ulang, serta menargetkan kerja sama dengan 20 pemerintah daerah pada 2035.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: