Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan dalam jangka pendek, seiring meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, mengatakan tensi geopolitik telah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu volatilitas pasar.
“IHSG dalam jangka pendek cenderung bergerak volatil dengan tekanan yang masih terasa,” ujarnya kepada Warta Ekonomi, Kamis (26/3/2026).
Harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) saat ini berada di kisaran US$74 per barel, sedikit di atas asumsi makro APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent tercatat naik US$1,13 atau 1,1% menjadi US$103,35 per barel, dan West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,08 atau 1,2% ke level US$91,40 per barel.
Menurut Hari, kenaikan harga energi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan menahan ruang penurunan suku bunga, sehingga mendorong investor cenderung bersikap lebih selektif.
“Secara teknikal, indeks masih sensitif terhadap perkembangan global, terutama jika belum ada de-eskalasi yang jelas,” imbuhnya.
Sentimen pasar sempat membaik setelah muncul kabar adanya proposal perdamaian yang diajukan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Iran. Namun demikian, ketidakpastian geopolitik dinilai masih tinggi sehingga pelaku pasar tetap berhati-hati.
“Tingkat ketidakpastian masih tinggi, sehingga pasar cenderung menjaga posisi,” ujar Hari.
Dalam jangka menengah, ia menilai arah IHSG akan sangat bergantung pada stabilitas harga energi dan dinamika global. Di tengah kondisi tersebut, sektor berbasis komoditas dinilai masih memiliki peluang untuk menopang pergerakan indeks.
“Sektor energi dan komoditas berpotensi menjadi penopang IHSG,” sebutnya.
Baca Juga: Sempat Sentuh 7.300, IHSG Hari Ini Ditutup Anjlok 1,89% ke Level 7.164
Baca Juga: OJK Optimis Pasar Modal RI Tetap Jadi Investasi Unggulan
Baca Juga: Meski DIguncang Perang AS - Iran, OJK Klaim Pasar Modal RI Masih Dilirik Investor Asing
Sejalan dengan itu, Founder WH-Project, William Hartanto, mengatakan sentimen krisis energi global justru dapat menjadi katalis positif bagi emiten tertentu, khususnya di sektor energi.
Menurutnya, kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan kinerja perusahaan komoditas melalui dorongan terhadap pendapatan dan margin.
“Sentimen krisis energi bisa menjadi positif untuk saham-saham komoditas seperti minyak,” jelasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Disclaimer: Keputusan untuk melakukan aksi jual atau beli saham sepenuhnya ada di tangan pembaca. Segala risiko kerugian dari setiap keputusan investasi yang diambil menjadi tanggung jawab pembaca.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri